Yang Dibiarkan Tumbuh di Halaman Belakang Eksistensial

Yang Dibiarkan Tumbuh di Halaman Belakang Eksistensial

Halaman belakang eksistensial saya selama empat tahun terakhir banyak mengalami bongkar-pasang. Melelahkan sekaligus menyenangkan, menguras emosi sekaligus memompa adrenalin. Campur-baur perasaan kala segalanya yang pernah dibangun megah nyatanya harus rubuh, koyak, dan mesti ditata ulang. Perjalanan hidup yang pada mulanya saya pikir akan berjalan mulus nyatanya penuh onak dan duri, tapi saya ogah putar balik. Lebih baik bertarung meski pada akhirnya akan kalah dan hancur lebur. Namun bagi saya itu tak mengapa, barangkali rentetan kekalahan akan membawa saya sesekali memenangkan pertarungan kecil di palagan kehidupan.

Ketika saya menuliskan catatan ini, saya telah diwisuda. Artinya saya sudah jadi sarjana, lebih tepatnya Sarjana Filsafat (S. Fil). Orang bilang jadi sarjana adalah suatu keberuntungan, namun bagi saya jadi sarjana adalah sebuah kutukan. Menjadi sarjana berarti juga siap menjadi pesakitan yang harus rela berkorban, jadi martir bagi nilai-nilai kebenaran. Siapa sanggup pikul beban berat ini? Bukankah Socrates pun memilih mati menenggak racun daripada berjibaku meyakinkan warga Athena bahwa ia berjuang demi kredo kebenaran? Tapi, pada catatan ini saya tak mau berbusa-busa perihal kebenaran.

Catatan ini adalah permenungan, atau sebuah penilaian yang menentukan baik/buruk, benar/salah, dan indah/jelek kehidupan personal saya.  Penilaian atau judgement yang perlu dilakukan ketika pengalaman (aposteriori) dan abstraksi (apriori) sudah diketegahkan. Dalam hal ini, saya menilai pengalaman dan abstraksi kehidupan saya sendiri. Pun penilaian ini menjadi sedemikian subjektif dan tak memburu objektivitas sebagai hidangan utama. Catatan ini adalah kenang-kenangan bahwa saya adalah anak zaman di mana persimpangan spiritual, intelektual, dan kebudayaan membentuk saya jadi manusia gelandangan atau manusia serabutan.

Serigala Filsafat Angkatan 2015: Meski sendirian Serigala, tetap Serigala! Silogisme konyol, tapi gapapalah, ya!

Kanvas Hitam Sebagai Landasan Eksistensial

Empat tahun lalu, saya datang ke Yogyakarta dengan sikap mantap. Datang cari ilmu, dan syukur-syukur jika di tengah jalan dapat memungut sekeping dua keping kebijaksanaan. Dahulu pribadi saya teguh dan terbiasa memandang dunia dengan potensi terbaiknya. Bahwa dunia ini adil bagi yang berusaha, baik-baik saja bagi yang positif, dan menyenangkan bagi yang bersyukur. 

Mungkin ketika itu saya melukiskan kehidupan di atas kanvas putih. Jika dibandingkan dalam konteks seni rupa, kanvas putih kehidupan saya merupakan bentuk impresionisme. Laiknya impresionisme, saya lebih percaya bentuk ketimbang isi. Kala itu saya lebih memperhatikan kesan orang lain kepada saya (bentuk saya di mata orang lain) dibandingkan perasaan diri sendiri (isi dalam pendalaman batin saya). Apakah saya adalah seorang yang pintar, saleh, dan rajin merupakan pertanyaan yang sering muncul di benak saya. Bisa dibilang orang lainlah yang menggoreskan kuas penilaiannya di atas kanvas putih hidup saya. Dalam impresionisme kehidupan, saya tak pernah membiarkan orang lain memberikan goresan hitam di atas kanvas putih saya, oleh karenanya, hidup saya kala itu ibarat boneka kayu yang dikendalikan sana-sini.

Pada tahun pertama kuliah, perasaan rendah diri, inco atau inferiority complex menjalar ke seluruh sendi kehidupan saya. Saya merasa tak tahu apa-apa perihal filsafat, saya malu sebab tak punya pengalaman banyak soal hidup, pergaulan saya terbatas, dan saya malu tinggal di daerah minim akar kebudayaan—di Cileungsi. Rasa tak percaya diri muncul akibat teman-teman baru saya saat itu nyatanya punya segudang prestasi, punya banyak pelajaran hidup yang ia dapat dari luasnya pergaulan, bacaan yang beragam, dan tumbuh di ekosistem yang punya akar budaya kuat dan khas. Sementara saya sendiri? Tak punya harapan apa-apa dan itulah sebabnya mengapa pundak saya saat itu acapkali tegang, mata saya gelisah, dan kening dipaksa terus-menerus berkedut.

Sejak saat itu saya mulai menghanyutkan diri pada buku-buku. Saat itu, saya mulai menjadi pembaca yang rakus dan melahap buku apapun sampai habis. Kala itu prinsip saya begini “baca buku dulu, sebelum sok tahu membaca kehidupan”. Kredo itu saya pegang teguh sampai tahun kedua kuliah. Masa-masa itu adalah masa di mana saya hanya jadi tukang kutip. 

Seseorang mengejek saya sebagai manusia kutipan. Benar, saya tak menyangkal itu. Saya mengutip banyak sekali orang-orang besar untuk menutup-nutupi inferiorty complex yang saya punya. Saya kerap berbusa-busa dengan pendapat ini-itu tanpa benar-benar tahu apa maksud dari pernyataan itu. Saya berbicara, tapi tak ada antusiasme yang lahir dari rahim pengalaman. Kata-kata saya kosong, tak punya gema. Ibarat menabuh gamelan, tapi tak punya gong-nya. Namun dari situlah rasa ingin tahu saya selapis demi selapi diberi pupuk.

Bersama Satria waktu ke Malang. Rambut saya masih gondrong waktu itu.
(Ini difotoin Ahnaf)

Saya aktif organisasi-organisasi intra dan ekstra kampus, bergaul dengan berbagai macam tipe manusia, dan mencoba banyak hal. Hidup saya makin urakan, spontanitas saya biarkan tumbuh liar tanpa pegangan. Dan tepat di situlah, religiusitas harus angkat kaki atau minimal beradaptasi dalam bentuknya yang lain. Apa lacur, hidup saya telah kadung bohemian, mengembara sana-sini serupa Ahasveros, dikutuk disumpahi Eros. 

Sedikit demi sedikit kanvas putih itu saya ganti dengan kanvas hitam. Saya tak lagi jadi manusia impresionis, namun jadi  seorang ekspresionis. Pandangan hidup saya jadi sedemikian kontras dan keras saat itu. Rasa-rasanya ibarat memegang palu godam dan memukul di sana-sini. Destruktif dan khaotik telah menjadi perspektif penciptaan. Sebuah ekspresi penciptaan yang mengubah diri saya menjadi pribadi yang negatif, melankolis, dan cenderung suram, saya sadar telah menjadi ekspresi kegelapan. Mungkin tepat apa yang dikatakan Schopenhauer bahwa “Filsafat pada halaman-halamannya  tidak terdengar tangisan, ratapan, kertak gigi, dan denting tanpa henti saling makan memakan universal, bukanlah filsafat.” Ekspresi terluka, bimbang, tanpa arah, tidak bahagia, dan muram menghiasi tahun kedua hingga tahun ketiga saya kuliah.

Perasaan kesepian tiba-tiba saja mulai menyeruak. Saya berusaha menggapai-gapai rasionalitas, namun sial, tak kunjung ketemu jawabannya. Kehidupan yang sungguh-sungguh omong kosong, penuh bualan, dan eufimisme serasa sedang menggerogoti diri kepribadian kanvas putih saya dulu. Goncangan epistemik dan keadaan tanpa pegangan. Ada semacam kematian berulang tiap kali saya mengingat pola pikir naif saya terdahulu. Bagi saya, itu adalah bukti kegagalan melihat dan membaca masa lalu dan masa depan sekaligus. Ketidakberdayaan itulah yang membuat saya yakin bahwa hidup sejatinya hanya untuk hari ini. Masa lalu dan masa depan merupakan beban dan ilusi yang tak perlukan untuk masa kini.

Waktu seperti kabut berdinding tebal yang tidak bisa ditembus. Kematian sepertinya hanyalah satu-satunya jawaban untuk membuat segalanya berhenti berproses. Bayangan kematian saat itu muncul seperti tindakan estetik untuk menyelamatkan arti hidup dan cinta, seperti yang dikatakan Afrizal Malna. Tapi, pikiran untuk mati malah jadi juru selamat saya dari keadaan jurang kehidupan tanpa makna, sebuah keadaan nol yang radikal.

Kanvas hitam yang muncul di halaman belakang eksistensial itu punya kesan kontras, sebab ia menyadarkan diri saya bahwa lantai kehidupan ini tidak lagi mudah untuk dipijak. Segalanya dipertaruhkan, direbut, dan diperjuangkan. Tak ada yang namanya makan siang gratis. Skeptisisme harus dijaga baik-baik sebab tiap-tiap dari kita berjuang untuk tetap relevan ketika zaman terus-menerus berubah. Bukankah tiap-tiap dari kita ingin hidupnya bermakna?

Hal yang muncul ketika informasi dan pemaknaan menjadi timpang adalah kelimbungan budaya. Ketergesaan kita untuk menyaingi kecepatan tumbuh teknologi yang serba teknis dan praktis. Pada zaman ini ketergesaan/kecepatan, efisiensi, dan fleksibilitas jadi prinsip esensial bagi orang-orang yang ingin tetap relevan. Dunia sedang berlari dan nampaknya saya tergopoh-gopoh mencari-cari akar eksistensial yang terserak di persilangan teknologi, humanisme, dan kebudayaan gelandangan.

Bunuh diri identitas akhirnya jadi jalan paling radikal yang pernah dilakukan. Masih Islam, kah, saya? Indonesia, kah? Laki-laki Jawa, kah? Kebudayaan urban atau tradisional? Tiap kali saya berpikiran tentang itu yang terjadi kemudian ialah identitas saya seolah dikuliti pelan-pelan.

Di jejaring konektivitas digital saya menggapai-gapai apa saja. Derasnya informasi membingungkan saya. Saya menyentuh layar ibarat perpanjangan tubuh. Ia adalah mulut dan cara saya bertindak lewat gerak jari yang mengutak-atik layar. Vitalitas hidup bergeser dari aktivitas fisik ke aktivitas virtual.

Numpang eksis, gan! Mumpung blog sendiri
(Masih difotoin Ahnaf)

Apakah peradaban saya sekarat? Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Iya, kebudayaan saya sekarat, karena hal-hal romantik kehidupan yang lambat sudah rapuh diganti oleh kebergegasan. Bahasa menjadi lebih sering menipu diri. Semacam ada penghalusan atau optimisme berlebih bahwa segalanya dapat diselesaikan oleh pengetahuan dan teknologi. Saya tak menyangkal ilmu pengetahuan sebagai salah satu jalan menuju kebenaran, tapi jangan pula dilupakan bahwa empati dan estetika juga tak boleh dikesampingkan sebagai bentuk berbudayanya suatu peradaban.

Hingar-bingar kebergegasan diiringi oleh maraknya anonimitas dalam kebudayaan. Gerak dinamisnya dirayakan lewat parade meme dan strategi pemviralan. Segalanya cepat viral, namun cepat pula tenggelam dan dilupakan. Momen permenungan diminimalisir. Semua harus cepat, buru-buru, dan penilaian mesti ditunda dulu—entah sampai kapan. 

Ruang privat tak pernah ada, ia sudah digantikan oleh  ruang maya. Denyut nadi digital mendapat asupan gizinya dari tombol-tombol like, share, atau retweet. Lalu yang tersisa dari ketergesaan itu hanyalah anxiety. Masing-masing kita menyerap banyak sekali informasi hingga kita bingung apa yang bermakna. Berbeda dengan ketakutan yang memiliki objek untuk ditakuti, kecemasan tidak pernah mengandaikan apapun. Kecemasan seringkali muncul akibat ketidaktahuan kita akan kemungkinan dari semua kemungkinan yang akan terjadi. Kita tidak pernah tahu kemungkinan apa yang akan terjadi dari pilihan-pilihan yang ada di hadapan kita, tiba-tiba saja hari ini kita ingin jadi Youtuber, influencer, dan membuat start-up. Di hari lain cita-cita itu harus direvisi, atau mungkin lenyap ditutup halimun hasrat lainnya.

Perkara kesepian kita keluhkan tiap hari jadi bukti sulitnya kita menerima makna definitif dari kata tersebut. Setahu saya, kesepian terbagi dua bagian; pertama kesepian fisikal, yaitu keadaan sendirian tanpa punya siapa-siapa. Kedua, kesepian eksistensial; yaitu proses penyikapan atas “Ada” atau bentuk komunikasi paling intim dengan “the self”.

Tapi, siapakah saya berani angkat pena untuk mengklasifikasikan kesepian kita masing-masing? Bukankah dalam kebudayaan yang sekarat kita hanya saling berkaca? Ruang digital merupakan kebudayaan yang terbelah sebagaimana subjek di dalamnya ikut merayakan anonimitas. Individu yang bermain di realitas maya punya otonomi untuk bebas dalam sebuah mesin yang diotomatisasi lewat algoritma. Penyatuan subjek yang bebas dengan kesepian Alan Turing termanifestasikan dengan banyaknya kaca yang memantul di lini masa. Di realitas maya kita hanya akan melihat cermin.

Bersama kawan-kawan LSF Cogito. Banyak, ya, anggotanya!

Memang perlu diakui bahwa manusia terlempar dalam kubangan pusparagam wajah realitas, padahal sebenarnya kita ingin menggapai yang objektif dan absolut. Kita dibuat heran, karena gambaran tentang realitas malah memiliki wajah yang berbeda-beda. Kita bahkan tidak tahu klaim mana yang lebih benar di antara klaim-klaim gambaran tentang realitas tersebut, yang masing-masing menjustifikasi sebagai kebenaran objektif.

Apakah saya seorang masokis kebenaran objektif? Tidak tahu, karena tiap kali ada trend yang mengganggu dan menyakitkan bagi pemikiran ideal saya tentang hidup, saya berusaha untuk mencari akar persoalannya. Setelah dicari pun, pada akhirnya, perbedaan sudut pandang itu bisa dinikmati dan ditransformasikan ke dalam konten-konten lucu. Apakah saya terpapar gaya berpikir dangkal? Jika menikmati humor adalah sebuah gaya berpikir dangkal, maka saya mengamini itu. Konten-konten lucu menjadi pelarian saya dari kejumudan debat, caci-maki di medsos yang tiap harinya berubah-ubah.

Tapi kebudayaan saya belumlah sekarat, sebab saya masih menemukan orang-orang otentik yang bisa memanifestasikan rasa takjubnya terhadap sesuatu menjadi karya. Beruntung saya masih menemukan kelompok pergaulan tersebut. Tiap harinya bisa sangat tak terduga sebab spontanitas dijunjung. Makna muncul setelah peristiwa dialami, sehingga saya tahu bahwa terkadang teori sulit untuk memprediksi apa yang terjadi kemudian, sebab kadang hulu dan hilir bisa berlainan, sebab-akibat bisa saling menipu. Ruang-ruang untuk mengubah arah gerak kepastian inilah yang membuat daya kreatif meledak-ledak. Selalu ada ruang untuk menjaga perasaan takjub untuk dituliskan dalam catatan singkat. Saya kira hal itu adalah sebuah bentuk puitik yang ditangkap dan tak dibiarkan untuk menguap tersapu hal-hal sepele lainnya.

“Penjara peradaban” dalam kata-kata muncul setelah pengalaman kebertubuhan. Artinya, konsep, gagasan, dan medan pemaknaan dibiarkan muncul di akhir, sementara yang di awal hanyalah coba-coba, rasa penasaran, dan hasrat untuk melakukan. Imajinasi yang bebas ini merupakan kendaraan saya menjelajah ruang-ruang kosong dalam rimba perasaan. Imajinasi inilah yang pada akhirnya menuntun saya untuk membebaskan diri dari konsep-konsep yang terlembagakan dalam institusi pendidikan dan pembagian kerja yang menyabotasenya menjadi fungsi-fungsi.

Imajinasi membuat saya terhindar dari jebakan deterministik nantinya akan membatasi kemungkinan di masa depan dengan pola yang sudah ditentukan di awal. Dengan demikian kehidupan akan jadi sangat membosankan, sebab ruang spontanitas sudah tidak ada. Padahal akan selalu ada kemungkinan bagi kita untuk mengambil jalan lain, selalu ada potensi untuk menjadi lebih baik, dan selalu ada kekuatan dalam mewujudkan segala perubahan ke arah yang lebih baik. Lalu satu-satunya pagar yang membatasi imajinasi saya selama empat tahun belakangan hanya tinggal humanisme.

Humanisme Sebagai Batas Imajinasi

Humanisme yang saya bangun empat tahun belakangan tumbuh berkat keterpesonaan saya membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer.  Bagi saya, Pram adalah semacam soko guru kemanusiaan yang punya dampak besar bagi majunya empati dan semangat berkembang saya. Ia semacam elang yang terbang dengan anggun meski sendirian. Nyanyiannya tak mati-mati meski seringkali diinterograsi ABRI. Pram dan nyanyian seorang bisu di dalam liang kubur terdengar merdu sekaligus simfoni kematian antek-antek Orde Baru. Tulisannya setajam peluru menerjang dan mengkritik kebijakan fasis pemerintahan Orba. Ia adalah wujud kongkret dari peribahasa “mati satu tumbuh seribu”, semangatnya dalam menulis tak pernah padam meski beberapa karya dan perpustakaannya dibumihanguskan.

Ia sempat meyakini akan mati muda, khususnya lagi karena TBC. “Tahun ’50, TBC membunuh ayah, ibu, adik, nenek, ipar, kemenakan saya,” katanya pada majalah Playboy Indonesia, 2006 silam. Ayah dan ibunya meninggal di usia muda, 55 dan 34. Jadi, ia pikir usianya hanya akan sampai di angka 40-an. Keyakinan itu memiliki dua akibat. Pertama, membuatnya bekerja seperti kuda, menulis sebanyak-banyaknya sebelum dibalap ajal. Kedua, mati bukan ketakutan lagi buatnya. Dan jika mati pun tak takut, apa lagi yang tersisa untuk ditakutkan?

Semangat itu yang selalu dijaga Pram, bukti kongkret magnum opusnya ditulis ketika ia jadi tahanan politik di Pulau Buru. Lebih-lebih karya itu beberapa kali masuk nominasi nobel, sebuah kebanggaan besar bagi bangsa ini yang ternyata mempunyai maestro sekaliber Pramoedya Ananta Toer. Karya-karyanya sudah beredar di sudah tersebar di berbagai negara. Lebih dari 200 bukunya diterjemahkan ke bahasa Belanda, Korea, Turki, Jepang, Spanyol, Yunani, Jerman. Selain itu ia juga memperoleh berbagai penghargaan dari seluruh dunia. Salah satunya adalah Pablo Neruda Award.

Era kolonial, Pramoedya pernah dipenjara, begitu pun di era Orde Lama. Namun, yang paling mengenaskan adalah saat di era Orde Baru. Penulis novel ini mengecap penjara lebih lama, setidaknya tercatat sejak tahun 1965 hingga 1979. Ia pernah di buang ke Pulau Nusa Kambangan, lalu Pulau Buru. Tempat di mana para figur yang dianggap membangkang pemerintah. Baru pada 21 Desember 1979, ia bisa menghirup udara bebas, meski tetap wajib lapor ke militer.

Ya, perjalanan hidup Pramoedya memang nestapa. Ia dipenjara gara-gara menulis. Namun, berkat menulis itulah namanya tetap abadi. Sejumlah karyanya diminati dan mendapatkan penghargaan hingga ke luar negeri, meski pemerintah Indonesia justru mengekangnya. Pramoedya sekali lagi bukanlah sekadar sastrawan, ia salah satu guru imajiner saya dalam menulis. Ia soko guru dari puluhan penulis besar negeri ini. Berkat Pram, saya tak perlu lagi takut lagi menulis seperti yang ia gaungkan bahwa “menulis adalah sebuah keberanian”.

Enggak tau ini semester berapa, pokoknya foto ini diambil saat beres UAS.

Prinsip kemanusiaan inilah yang melingkupi keseharian saya dalam menulis atau pun dalam sikap politis. Bagi saya, kemanusiaan itu begitu luasnya sehingga tak mungkin dibatasi oleh nasionalisme sempit, perilaku rasisme, diskriminasi gender, dan dogmatisme agama. Saya ingat betul bagaimana tangis saya pecah ketika membaca Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Bagaimana kemanusiaan bisa begitu dihinakan oleh sesamanya. Dari sanalah mulai muncul bahwa prinsip hidup yang betul-betul saya pegang teguh adalah prinsip-prinsip kemanusiaan yang di dalamnya memuat empat unsur, yaitu keberanian, kesetaraan, keadilan, dan kebebasan.

Pertama, terkait dengan keberanian adalah kunci atau akar bagi terwujudnya tiga unsur yang disebutkan belakangan. Tanpa keberanian, segalanya jadi sulit dan sia-sia. Keberanian adalah matahari, kalau kata Iwan Fals, tanpa sifat berani manusia selamanya akan meruduk-runduk di hadapan orang lain. Berani bisa berarti berjuang untuk membela kebenaran. Berani juga dapat berarti semangat untuk terus-menerus belajar dan mengakui bahwa diri ini acapkali lupa dan salah. Karlina Supelli pernah mengatakan, “ketika ketika kita berani, seringkali kita memang sendirian. Jalan yang paling sunyi, yang sering ditempuh oleh para pemikir besar itu, adalah keberanian untuk menyangsikan—dan itu adalah jalan yang sangat… sepi. (Ancaman terhadap Ilmu Pengetahuan; 2017). Keberanian memberikan gairah pada hidup sembari menyelamatkan kita dari rasa rendah diri di hadapan manusia lain.

Kedua, unsur kesetaraan merupakan prinsip hidup yang menjadi batang dari segala sendi peradaban manusia. Tanpa kesetaraan, selamanya manusia hidup dalam perbudakan. Pasalnya, konsep perbudakan akan terus-menerus tumbuh subur tanpa adanya kesetaraan di muka bumi. Manusia wajib menghormati sesamanya tanpa terkecuali, sebab kesetaraan memberi kita ruang untuk berdialog dan bertukar gagasan. Jika kesetaraan tak ada, maka yang berbeda akan dieksploitasi dan didiskriminasi.

Ketiga, unsur keadilan dalam bangunan prinsip hidup saya adalah daun-daun rindang yang menaungi peradaban manusia. Ketidakadilan adalah bentuk congkak manusia atas kuasa yang diperoleh. Tanpa keadilan manusia hanya peduli pada kepentingan dirinya sendiri dan pengetahuan yang ia punya akan menjadi sedemikian menyeramkan ketika digunakan untuk menyalahkan dan menakut-nakuti orang lain. Ia dapat menjadikan urat leher mengeras serupa beton, dan tangan mengepal layaknya petinju. Tak heran keadilan, bagi saya, adalah bentuk dari luhurnya akal budi seseorang. Bukankah seseorang harus berlaku adil sejak dalam pikiran, bukan begitu Bung Pram? Jika seorang tak mampu berlaku adil, kecerdasannya hanyalah kepalsuan untuk menutupi keburukan-keburukan yang dilakukannya.

Unsur yang keempat ialahkebebasan yang merupakan buah dari seluruh bangunan peradaban manusia. Betapa menyenangkan jadi orang yang bebas, tak perlu diperintah dan tak perlu memerintah. Kebebasan berarti juga menolak untuk diseragamkan, ia menolak tunduk di balik segala bentuk yang membuat seolah-olah semuanya serba satu, murni, dan utuh. Unsur ini pun, bagi saya, perlu untuk membebaskan manusia dari kerja-kerja repetitif, membosankan, berbahaya, dan mendangkalkan pola pikir. Kebebasan memilih jalan hidup, mengutarakan pendapat, dan bebas dari kebodohan adalah cita-cita kebebasan yang selamanya coba saya pegang teguh.

Keseluruhan unsur tersebut telah jadi batas-batas di mana imajinasi harus tunduk di bawah nilai-nilai itu. Ketika imajinasi sudah melampaui batas-batas keempat unsur tersebut, barangkali saya sudah menjadi bajingan yang tak lagi pantas dipandang dan diperlakukan seperti manusia. Barangkali ini adalah sebuah pesan peringatan agar tak melakukan hal-hal ceroboh yang dapat membuat saya jatuh pada kubangan kenistaan. Keempat unsur ini mudah-mudahan dapat menjadi salah satu prosedur utama bagi saya untuk mencapai kebenaran.

Humanisme ini yang menjadi pembimbing tingkah laku dan cara saya melihat dunia. Saya merasa ada sesuatu di dalam diri saya yang memaksa saya untuk menulis dan bertindak berdasarkan asas-asas kemanusiaan ini. Saya tahu bahwa tak ada paksaan yang memaksa saya untuk berbuat demikian, namun pada akhirnya saya tak punya daya untuk mengelak. Saya juga merasa ketika tidak mengabdikan diri untuk kemanusiaan, saya tak mungkin jadi manusia yang bermanfaat bagi yang lainnya. Dalam mempertanyakan identitas dan takdir saya sendiri, saya menjadi sadar bahwa tanpa kemanusiaan, saya hanya akan menjadi manusia yang penuh dosa dan terkutuk.

Imajinasi dan proses kepenulisan saya sampai saat ini menjunjung tinggi apa yang orang sebut sebagai kemanusiaan. Barangkali ini adalah suatu perjuangan dan tindakan yang muluk. Saya tak menyangkal hal itu. Mengabdikan diri pada kemanusiaan bukanlah kebahagiaan, tapi justru kesengsaraan. Saya sudah terjebak dalam kode etik yang saya bangun sendiri, bahwa tidak menjunjung kemanusiaan berarti berkhianat pada takdir yang membawa saya sampai sejauh ini. Di dalam perjalanannya ada rasa menusuk dan mengusik ketenangan batin saya. Ketika ada usaha-usaha untuk membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupan saya sendiri. Bagaimana pengalaman itu mencoba-coba mencari rasionalisasi bahwa saya adalah manusia paling sengsara di dunia, padahal itu hanyalah omong kosong! Saat ini, perbuatan tersebut sama sia-sianya seperti menguras air laut.

Diskusi LSF Cogito, saya jadi moderator, tapi lupa si Bung ngomong apa!

Sebagai pemburu pesan, tentu saya menyadari bahwasanya pengalaman membanding-bandingkan kehidupan menimbulkan kesadaran lain pada diri saya. Saya tahu orang lain berbahagia, sebahagia orang-orang yang tak perlu mempelajari filsafat. Akan tetapi, saya juga tahu derajat saya berbeda dengan derajat orang-orang lain. Mereka adalah abdi dari kehidupan yang berbeda: mereka tumbuh, makan, menjadi gemuk, tidak perlu banyak berpikir, dan berbahagia karena tak perlu sering-sering gelisah—bagi yang tersinggung, saya mohon maaf. Pada dasarnya, hal inilah yang akhirnya menjadikan imajinasi dan pandangan kepenulisan saya menjadi resah dan berusaha menggapai-gapai kekosongan yang tak dirasakan orang lain. Saya terejek oleh keadaan saya sendiri: tanpa rasa cinta pada kemanusiaan dan dunia tulis-menulis, maka hidup saya akan menjadi kosong.

Dalam angan imajiner, saya menganggap bahwa segala tingkah laku manusia hanyalah riak-riak kecil dari sesuatu yang maha besar di balik keheningan samudra. Paling tidak hal inilah yang menuntun saya untuk terus-menerus berterus-terang dalam menulis. Saya tak boleh menutup-nutupi ketidaktahuan saya di balik nama-nama besar intelektual, saya tak boleh bersolek dengan kata-kata secara berlebihan, dan saya tak boleh mengharap lebih bahwa tulisan saya dapat mengubah kehidupan orang lain. Menjadi jujur dan berterus terang inilah yang saya harap dapat memberikan bahan bakar untuk terus hidup.

Melalui keterusterangan ini, akhirnya saya menemukan kebahagiaan. Dalam dunia saya saat ini, saya tak perlu berlagak macam-macam karena memang belum ada yang patut untuk dibanggakan. Melepaskan diri dari bayang-bayang segala tuntutan yang membuat saya lebih jujur kepada diri sendiri. Pun dalam kemanusiaan yang coba saya pupuk, saya menolak adanya anarki, kebohongan, dan kesewenang-wenangan. Dan kebahagiaan berterus-terang yang saya peroleh dari menulis menjadikan saya bermetamorfosis menjadi manusia yang lebih berempati pada pengalaman-pengalaman manusia yang lain.

Keempat unsur kemanusiaan, yang saya sebutkan sebelumnya, selamanya diperuntukkan untuk membentuk kepribadian yang kokoh. Tanpa kepribadian yang kokoh, saya sadar, mustahil menulis kalimat-kalimat yang bergaung panjang di pikiran. Seperti bentuk klise lainnya, ada konteks yang erat dengan proses yang membentuk saya. Konteks ruang itu ialah Yogyakarta yang selama empat tahun belakangan menjadi medan pergumulan yang cukup intens, bagaimana identitas kebudayaan saling berebut pengaruh membentuk riwayat identitas saya.

Yogyakarta Sebagai Palagan Kebudayaan

Time is a kind friend, tulis seorang penyair wanita yang sedih, it make us old. Orang bilang bahwa hanya yang pernah bercita-cita, namun kemudian khilaf, hanya yang pernah bergelora, tapi kemudian redup—hanya merekalah yang paham betapa benarnya perkataan penyair itu, dalam kesedihan yang arif: waktu adalah teman yang baik. Ia bikin kita jadi tua.

Di Yogyakarta, waktu membuat deretan nama dan peristiwa menjadi sejarah. Ia membikin segala sendi kehidupan saya penuh amuk, redup, dan pasang-surut. Ia nyatanya membuat arus dunia saya yang tadinya deras menjadi reda. Barangkali waktu di Yogyakarta seperti perkataan Konfusius “orang tak dapat melihat bayangan dirinya di air yang mengalir, tapi ia dapat melihatnya pada air yang diam”. Yogyakarta punya kelebihan itu, ia terlalu sempit untuk dimaknai sebagai sebuah kota. Ia adalah sebuah peristiwa, di mana waktu seolah diam sehingga saya dapat melihat dan merefleksikan pendalaman kebudayaan yang bersarang di dalam diri saya.

Bersama Paman Anton. Ya ampun, lucu juga kita 🙂

Sudah tak terhitung bagaimana Yogyakarta menyediakan peristiwa puitik, tentang buku-buku murah, raung-ruang diskusi, pertunjukan teater, pameran seni, dan tongkrongan berbasa-basi hilir-mudik saling mengisi membentuk “kebudayaan gelandangan” saya. Pada awalnya, saya mengira Yogyakarta secara naif, bahwa ia adalah kota pelajar, kota pusat kebudayaan Jawa, dan kota adiluhung yang halus. Penilaian ini jelas salah besar saat ini. Nyatanya Yogyakarta, sama halnya dengan kota-kota besar lain, selalu berwajah ganda. Di balik romantismenya, di sana juga senantiasa ada diskriminasi, di balik murahnya harga makanan, ada juga pilu UMR yang kecilnya minta ampun. Namun, di sini saya enggan membahas kondisi sosiologis masyarakat Yogyakarta. Pada bagian ini, saya hanya ingin merefleksikan bagaimana kebudayaan lokal, nasional, dan global bertarung sengit dalam palagan kebudayaan saya.

Saya akan memulainya dari pertarungan kebudayaan besar dahulu, pertarungan kebudayaan Barat dengan Timur di dalam diri saya. Saya mempelajari ilmu filsafat yang notabene adalah ilmu yang berkembang di Barat dan mewakili kebudayaan dengan ciri umum: rasional, empiris, dan objektif. Sementara di sisi yang lain, saya berusaha menyesuaikan diri di Yogyakarta yang notabene adalah tonggak kebudayaan Jawa adiluhung dengan ciri-ciri: intuitif, perasa, dan subjektif—tentu penilaian saya hanya didasarkan generalisasi.

Dalam persimpangan jalan tersebut, pada awalnya Barat selalu membuat saya risau. Hampir seluruh manusia di Dunia Ketiga merasa, ada sebuah bangsa yang pernah menjajah, ada sebuah kekuatan yang meletakkan Timur sebagai keset kakinya, meremehkan kita—dan sekarang tetap jadi tempat kita bercermin. Di depannya saya mematut-matut diri: adakah saya lebih kecil, atau lebih besar? Begitulah kiranya saya  memperbandingkan kebudayaan Barat dengan Timur. Barat selamanya megah, sementara Timur selamanya rudin.

Makin ke sini penilaian saya salah besar, Barat dengan segala kemegahannya, toh, sama dengan belahan dunia manapun; ia punya luka yang sama. Rahim ekosistem Barat melahirkan Hitler dan Martin Luther, keeksotisan Timur melahirkan Mao Zedong, juga Gandhi. Lagu Puan Kelana Silampukau mengingatkan saya demikian, “jauh-jauh puan kembara, sedang dunia punya luka yang sama”. Di Barat ada perbudakan, diskriminasi, amoralitas,  pun sama pula yang terjadi di Jawa, meski mengakui adat ketimurannya, nyatanya ia juga punya bopeng-bopeng dalam menyikapi perbedaan.

Barat-Timur, bagi saya, bukan lagi soal penting. Pasalnya, bisakah kita memberi batas tegas, mana budaya Barat dan mana budaya Timur?

Saya memandang kebudayaan Barat dan Timur dalam diri saya ibarat sebuah garis pantai dan kegembiraan kanak-kanak. Syair dari Tagore dalam Gitanjali mungkin bisa menjelaskan peleburan kebudayaan Barat-Timur yang pelik itu:

“Di pantai dunia yang tak berujung, anak-anak bertemu. Langit tanpa batas terhenti di atas dan air yang resah bersuara ramai. Di pantai dunia yang tak berujung anak-anak bertemu, berseru, dan menari.

Mereka bangun rumah dari pasir, mereka mainkan lokan yang kosong. Mereka rajut kapal dengan daun-daun kering, dan dengan tersenyum mereka apungkan ke laut dalam. Anak-anak datang bermain di pantai dunia.

Mereka tak tahu bagaimana berenang, mereka tak tahu menebar jala. Nelayan menyelam mencari mutiara, saudagar berlayar mengarungkan perahu, sementara anak-anak menghimpun batu dan menebarkannya kembali. Mereka tak mencari harta karun, mereka tak tahu menebar jala…”

Anak-anak, permainan, pantai—saya bayangkan peradaban umat manusia di dunia. Barangkali kebudayaan adalah sesuatu yang mengiaskan kehidupan spontan dalam diri subjek, tidak terbatas, tidak dapat dilihat sebagai sesuatu yang pasti secara teleologis, kebetulan-kebetulan yang mengejutkan dan menyegarkan, proses yang tak berangkat dari sebuah asal yang lengkap dan tak berakhir dengan buah arah yang kukuh.

Di pantai dunia yang tak berujung, kebudayaan Barat, Timur, dan belahan bumi lainnya bertemu. Pantai bukan hanya sebuah batas, melainkan sebuah “tengah”, meskipun ia tak berada di tengah. Dalam keasyikan permainan, sebenarnya memang tak jelas pantai membatasi apa, laut ataukah pulau, arah penjelajah atau tempat asal. Geografi raib. Keriangan kanak-kanak tak pernah ambil pusing mana budaya Barat, mana budaya Timur. Ada laku bermain yang intens, yang menghiraukan segala perbedaan itu.

Besama Kawan BPMF Pijar di Kaliurang. Teranjay!

Dalam kebudayaan luntang-lantung, saya menilai Barat bukan lagi sebagai sesuatu yang serba baru dan mewah, sementara Timur tak selalu berkaitan dengan budaya warisan yang selamanya harus kita gosok-gosok supaya tidak berdebu. Keduanya baik selama dapat merangsang imajinasi kanak-kanak saya dan tidak bertentangan dengan prinsip humanisme yang telah saya paparkan sebelumnya.

Lalu pertarungan sengit yang kedua, ialah kebudayaan lokal dan nasional yang saling sikut berebut perhatian. Seperti yang telah dijelaskan di awal, bahwa saya tak memiliki akar kebudayaan lokal yang kuat. Pun saya tak tumbuh dan berkembang di daerah yang punya menganggap kebudayaan nasional sebagai suatu hal yang mendesak. Lingkungan tempat saya tumbuh besar selama 15 tahun belakangan adalah wilayah satelit yang cukup aneh bagi saya.

Cileungsi, sejauh yang saya pahami dari buku sejarah, adalah tempat persembunyian si Pitung dari kompeni Belanda. Saat ini, Cileungsi merupakan salah satu daerah industri yang ramai di Kabupaten Bogor. Sebagai mana daerah industri yang berkembang, jalanan di sana lebih sering macet, pusat perbelanjaan tumbuh menjamur, dan perumahan menggusur lapangan besar tempat saya bermain dulu.

Secara geografis, ia memasuki wilayah Jawa Barat, namun secara kultural, Cileungsi yang saya hidupi adalah percampuran budaya yang pelik. Banyak imigran dari Jawa, Sumatera, dan pindahan dari Jakarta. Lingkungan yang seperti itu membuat bahasa yang digunakan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dengan campuran Bahasa Sunda dan Bahasa Gaul Jakarta. Jadilah kebudayaan gado-gado yang meski terkesan ganjil, nyatanya enak juga makan. Singkat kata, daerah tempat saya tumbuh tak sepenuhnya udik sekaligus juga tak sepenuhnya maju.

Lalu, di mana pertarungan kebudayaan lokal dan nasional ambil peran? Ketika saya pergi ke Yogyakarta, akhir-akhir ini saya merasakan gejolak pertarungannya. Saya merasa tak sepenuhnya Indonesia (meski punya KTP Indonesia), tak sepenuhnya Jawa (meski kedua orang tua saya orang Jawa), dan bukan pula orang Sunda (meski tinggal lama di Jawa Barat). Tarikan lokalitas dan nasionalitas barangkali muncul dari maraknya politik identitas yang muncul belakangan. Sialnya, saya terjebak dalam pusaran pertarungan identitas itu di Yogyakarta. Seolah saya muak dengan pertarungan identitas yang barangkali tak pernah ada istilah kemurnian di dalamnya, sebab identitas tak pernah tunggal.

Masing-masing dari kita memiliki berlapis-lapis identitas. Misalnya, seseorang bisa saja mengaku Muslim, namun di saat yang bersamaan merupakan seorang perempuan Sunda, seorang Feminis, atau seorang penggemar Drama Korea. Sebab dalam klasifikasi Amin Maalouf, secara garis besar identitas terbagi dua: (warisan) vertikal dan horizontal. Warisan vertikal adalah identitas yang merupakan bawaan biologis dan tidak bisa dipilih-pilih (misalnya, ras dan jenis kelamin). Namun, identitas horizontal bisa dipilih secara sadar dan mana suka. Misalnya, jadi fans Persija sekaligus Manchester United, jadi penikmat film atau peramu puisi.

Kebudayaan nasional merupakan bias tersendiri bagi saya. Ia seperti mencengkeram kebudayaan lokal, diakuinya, dan dibingkainya layaknya warisan. Kebudayaan nasional jadi tidak berkembang karena hanya dimaknai sebagai sesuatu yang sakral dan tidak boleh diubah. Pandangan itu saya kira salah, sebab kebudayaan yang tidak berubah akan ditinggal oleh masyarakat. Kebudayaan merupakan suatu entitas yang dinamis; meliputi atau mencakup unsur-unsur yang membentuk dan sekaligus terbentuk dalam individu, masyarakat, hingga bangsa. Unsur-unsur yang abstrak ataupun konkret, keduanya akan memainkan peran sama: membentuk, mengubah, dan memperkuat suatu kebudayaan sesuai tuntutan zaman ke depannya.

Tiba-tiba udah wisuda aja, ya, gengs 🙁

Saya memandang kebudayaan nasional dari rumah terkecil saya. Dari hal-hal yang saya hidupi bersama dengan kenangan di dalamnya. Kebudayaan nasional saya selama di Yogyakarta, yaitu kontrakan saya di belakang Hartono Mall, sepanjang jalan Gejayan-UGM, Fakultas Filsafat, perpustakaan Filsafat dan UGM, dan kantin Bonbin (sekarang Plaza BI) dengan segala riuh suasananya. Artinya ketika saya memandang kebudayaan nasional Indonesia, saya akan menjawabnya dari kacamata yang dekat dengan saya, bukan yang jauh di sana.

Gaung pertarungan-pertarungan kebudayaan sebelumnya menjalari pola pikir saya melihat dunia. Kadang tubuh saya menghendaki suasana kosmopolit yang bebas dari batas-batas teritorial, tetapi di lain hari, tubuh saya membutuhkan rumah untuk pulang. Kebudayaan campur aduk ini mengherankan, dan akhirnya menuntut saya untuk merasionalisasikan bahwa tidak punya akar kebudayaan yang kokoh adalah satu hal yang wajar, sebab kebudayaan akan selalu terbentuk dari perjalanan hidup.

Yogyakarta, bersama dengan waktu, telah memberikan kesempatan bagi saya untuk menumbuhkan hal-hal yang selama ini menghidupi halaman belakang eksistensial saya. Di sana peradaban dan kebudayaan saya tumbuh dari serangkaian proses produksi sumber-sumber artistik dan intelektual. Kata kuncinya “proses”—yang barangkali sering diabaikan oleh para penyusun bangunan peradaban yang kokoh (juga juru bicara ideologi dan para pemimpin politik) yang lebih suka berbicara tentang ritual yang sudah tersusun, formasi dan struktur sosial yang sudah hadir dan “jadi”.

***

Sementara sampai di sini dulu bentuk penilaian reflektif saya selama empat tahun terakhir berproses di Yogyakarta. Kemudian ada sedikit pesan untuk diri saya yang membaca catatan ini di masa depan: “jaga kesehatan dan jangan takut untuk punya mimpi besar”. Barangkali ketika membaca catatan ini kamu sedang dalam keadaan senang atau hancur dihantam kehidupan, kita akan melewati segala tantangan itu sebagai bagian dari “proses”. Tubuh yang kita hidupi adalah susunan dari ratap tangis, keringat, dan amarah untuk memperjuangkan segenap cinta untuk terus hidup.

“We do not belong to those who have ideas only among books, when stimulated by books. It is our habit to think outdoors – walking, leaping, climbing, dancing, preferably on lonely mountains or near the sea where even the trails become thoughtful.”

Friedrich Nietzsche, The Gay Science

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: