Stop Pneunomia: Warisi Apinya, Jangan Asapnya!

Stop Pneunomia: Warisi Apinya, Jangan Asapnya!

Jargon tersebut merupakan gubahan dari apa yang Bung Karno katakan dalam ajakan revolusionernya untuk mewarisi api revolusi ketimbang abunya. Bagi saya, jargon untuk mewarisi api, jangan asapnya, selain punya makna  konotatif, ia juga memiliki makna denotatif. Api kerapkali dinilai memiliki kegunaan yang beragam bagi kehidupan manusia, sedangkan asap adalah kebalikannya.

Terbentuknya asap dari api ibarat induk yang tak menginginkan anaknya. Secara umum asap merupakan produk sampingan yang tak diinginkan dari api. Asap mengandung banyak partikel beracun yang dapat membunuh dengan kombinasi kerusakan termal, keracunan, dan iritasi paru-paru yang disebabkan oleh karbon monoksida, hidrogen sianida, dan produk pembakaran lainnya. Barangkali seperti itu pula manusia yang hendak menyalakan api, namun enggan memperoleh asapnya.

Dalam perilaku keseharian kita, asap dan api laksana dua sisi mata uang. Api membantu kita memasak, penghangat tubuh kala dingin, dan sebagai sumber energi. Sementara di sisi lain, meski punya beberapa manfaat, asap acapkali jadi pengganggu kehidupan manusia. Contohnya ialah asap yang berlebih dapat menyebabkan seseorang terkena penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Asap yang berlebihan juga dapat mengganggu proses penglihatan yang dapat mengakibatkan kecelakaan dan menghambat aktivitas keseharian masyarakat.

Asap muncul dari aktivitas alami atau pun buatan. Aktivitas alami merupakan munculnya asap dari fenomena alamiah, misalnya saja munculnya asap dari kawah gunung berapi dan asap kebakaran hutan akibat kemarau panjang. Sementara asap buatan ialah asap yang terbentuk akibat campur tangan manusia, seperti asap kendaraan bermotor, asap rokok, dan asap pembakaran sampah.

Baik asap alami maupun buatan sama-sama berbahaya bagi kesehatan manusia jika terpapar secara berlebihan. Salah satu bahaya yang timbul dari terpaparnya asap secara berlebih adalah pneumonia. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB); Sutopo, pelatih klub Juventus; Maurizio Sarri, dan vokalis Queen; Freddie Mercury hanyalah segelintir orang uang terjangkit ganasnya penyakit ini. Sebab, menurut artikel yang dikeluarkan oleh American Thoracic Society (2006) pneumonia merupakan penyakit yang bertengger di posisi kedelapan dalam daftar penyakit paling mematikan, dengan total penderita yang meninggal mencapai 55 ribu korban jiwa.

Pneumonia adalah infeksi berujung radang pada paru-paru yang terjadi di bagian kantong udara di paru-paru yang bernama alveoulus. Sialnya, penyakit ini tidak hanya berbahaya bagi lansia, ia juga berbahaya bagi anak-anak. Menurut data WHO, pneumonia merupakan penyakit paling mematikan bagi anak-anak di seluruh dunia dalam hal jumlah korban jiwa, lebih tinggi daripada penyakit lain seperti kelainan jantung atau kanker. Data dari Save the Children pun menunjukkan bahwa angka kematian anak akibat pneumonia mencapai 1 juta anak per tahunnya dan diprediksi akan membunuh 11 juta anak di tahun 2030.

Setengah dari kematian anak akibat pneumonia muncul dari polusi udara. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa menjaga lingkungan, dari lingkungan terbesar kita (bumi) hingga ke lingkungan terkecil (rumah), agar terbebas dari polusi udara.

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia sepanjang tahun ini, hingga Agustus tercatat 135,7 ribu hektare area hutan dan lahan yang terbakar. Kalimantan dan Sumatera merupakan dua wilayah yang paling banyak terdapat titik panas. Kebakaran hutan di Riau pada bulan Februari 2019 lalu adalah salah satu contoh pentingnya menjaga lingkungan alam kita dari bahaya polusi udara. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau, untuk Kota Dumai saja tercatat ada 2.199 terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Untuk pneumonia ada 7 orang, asma 52 orang, iritasi mata 58 orang, dan iritasi kulit 28 orang. Dari sana kita bisa membayangkan betapa mengerikannya efek yang ditimbulkan polusi udara bagi kesehatan manusia.

Di lingkungan terkecil kita efek polusi udara tak kalah mengerikan. Orang tua yang merokok bisa menularkan penyakit kepada sang buah hati. Praktisi kesehatan anak Achmad Rafli di Jakarta, dikutip dari Antara, menjelaskan bahwa balita dapat menjadi perokok pasif yang membuat balita acapkali mengalami batuk dan pilek berulang-ulang. Terbukti dari data Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang mencatat bahwa pneumonia pada Balita menduduki peringkat kedua sebagai penyakit menular setelah diare. Tahun 2018 tercatat 42.305 balita ditemukan dan ditangani dengan diagnosis pneumonia.

Pola pengasuhan anak jadi sangat genting di sini. Orang tua yang merokok, baik ayah atau ibu, dan mengasuh anak memiliki risiko untuk menjangkiti sang buah hati dengan pneumonia. Dengan berpatokan pada data sebelumnya, pneumonia pada anak dapat ditangkal dengan cara berhenti merokok dan memberikan vaksin pneumonia pada anak. Lingkungan yang bersih dan sehat pun juga punya peran sentral dalam mengatasi pneumonia. Orang tua, terlebih seorang ayah, haruslah mewarisi api yang positif bagi anak, bukan malah mewariskan asap. Ia harus mampu memberikan contoh yang baik dalam menerapkan pola hidup sehat bagi anak dan keluarganya. Jangan sampai seorang ayah malah mewarisi asap, sebab yang akan menjadi korban bukan hanya kesehatan pribadinya, melainkan juga kesehatan seluruh keluarganya.

#StopPneumonia #WhateverItTakes #BerpihakPadaAnak

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: