Setelah Hujan

Setelah Hujan

Biar aku menantimu
selepas hujan,
selepas cemas di hatimu reda.

Detik waktu adalah pilu yang menggores dalam kalbu.
Lepaskan saja semua;
apa yang ada telah hangus jadi rangka

Sungguh aku membutuhkan kawan
pada subuh hari
saat pagi masih diselimuti halimun.

Jangan takut,
selalu ada ‘Aku’, kamu tak pernah benar-benar sendiri.

Apabila kalut masih mengintaimu
serupa jelaga
jangan takut, dan melangkahlah terus.
Ketakutan serupa bara dalam sekam
jangan kau tiupi, segera kau basuh kasih.

Di perjalanan pulang
dalam keadaan yang rungsang.
Sepimu tertawan di tiang gantung,
segeralah bernyanyi, mungkin hangat
menyelimuti hatimu lagi.

Kita berhenti di pinggir telaga
membasuh luka-luka,
membasuh kata-kata,
membasuh air mata.

Setelah hujan reda,
nasib bersembunyi dalam kata.
Karena itu tenggelamlah dalam kata.
Di samudera kata aku bersembunyi;
dari matamu, dari senyummu, dan dari kata-katamu.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: