Political Ontology

Political Ontology

Colin Hay berupaya untuk menjelaskan relevansi ontologi dengan analisis politik. Bagi Colin, ilmu politik saat ini menjadi lebih reflektif dan terkesan kurang percaya diri akibat adanya kekhawatiran ontologis. Hal ini diakibatkan oleh para analis politik yang kurang begitu tertarik mencari kebaruan analisis lewat cara reflektif, radikal, dan dalam beberapa kasus, merombak asumsi yang selalu menjadi dasar pemikiran analitis mereka. Walhasil, fenomena ini menunjukkan bahwa tak ada analisis politik yang secara ontologis bersifat netral.

Dalam argumennya Colin berupaya membahas konsep ontologi politik, status klaim ontologis, dan perselisihan ontologis dalam analisis politik. Ia menyoroti perbedaan yang konsisten antara asumsi analitis yang diterima begitu saja dari pendekatan arus utama, dan analisis yang muncul dari refleksi ontologis yang berkelanjutan. Tantangan selanjutnya ialah meyakinkan bahwa ontologi politik adalah hal yang penting. Sulit bagi ontologi politik untuk menemukan dimensi/variabel yang dapat digunakan sebagai alat pembanding yang sah dalam analisis politik. Ontologi politik juga kesulitan untuk menyepakati kategori umum perihal aktor, mekanisme, atau proses yang dapat dilakukan sebagai pembanding yang sah. Pasalnya, pilihan ontologis memengaruhi secara substansial isi teori dan entitas di dalamnya (serta harapan bagaimana dinamika politik diungkapkan).

Para analis politik idealnya berupaya menjawab pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan pemerintahan? Apa saja bagian-bagian dari pemerintahan dan bagaimana cara mereka bersatu? Prinsip-prinsip umum apa yang mengatur fungsi dan perubahannya? Jika berdasarkan prinsip kausalitas, lalu apa ditimbulkan dari sebab-akibat dalam politik? Apa yang mendorong aktor politik melakukan sesuatu? Apakah preferensi individu dan institusi sosial itu ada, dan dalam arti apa ia relevan? Apakah hal-hal tersebut bersifat universal, ataukah hanya bersifat relatif tergantung pada konteksnya?

Asumsi Ontologis

Secara garis besar, terdapat delapan tema utama dalam ontologi politik:

  1. Hubungan antara struktur dan agensi, konteks, dan perilaku.
  2. Sejauh mana peran kausal dan/atau konstitutif dari gagasan dalam menentukan kebijakan politik.
  3. Sejauh mana sistem sosial dan politik dapat menunjukkan kualitas organik atau sejauh mana sistem sosial dan politik dapat direduksi ke dalam jumlah keseluruhan / ke bagian konstituennya.
  4. Hubungan (dualistik atau dialektik) antara pikiran dan tubuh.
  5. Sifat subjek manusia (politik) dan motivasi perilaku.
  6. Sejauh mana dinamika sebab akibat dapat digeneralisasikan atau dikontekstualisasikan.
  7. Karakteristik objek dari ilmu alam dan sosial.
  8. Sejauh mana (jika ada) pemisahan antara yang nampak dengan realitas— sejauh mana dunia sosial dan politik menampilkan dirinya kepada manusia sehingga yang riil dapat diamati.

Secara gamblang, Colin menaparkan bahwa asumsi ontologis secara logis mendahului pilihan epistemologis dan metodologis yang lebih sering diidentifikasi sebagai sumber perbedaan paradigma dalam ilmu politik. Dengan demikian, ada dua pilihan yang seringkali jadi konsekuensi dari hal tersebut. Pertama, pilihan ontologis menjadi kurang diakui dan akhirnya mendasari perselisihan teoretis utama dalam analisis politik. Kedua, ketidaksepakatan ontologis cenderung terwujud dalam pilihan-pilihan epistemologis dan metodologis, dan bagi Colin, hal tersebut hanyalah fenomena sampingan yang pada akhirnya menentukan asumsi ontologis. Dalam pemaparan singkat ini Colin menunjukkan bahwa ontologi, epistemologi, dan metodologi, saling berkaitan erat antara satu dengan yang lainnya, sehingga ia tidak dapat direduksi. Ontologi berhubungan dengan sifat dunia sosial dan politik, epistemologi berhubungan dengan apa yang dapat kita ketahui tentang hal tersebut, dan metodologi tentang bagaimana kita dapat memperoleh pengetahuan tersebut. Namun apa lacur, jika jeli melihat argument yang dipaparkan Colin, kita akan menemukan lubang-lubang yang dapat meruntuhkan argument-argumennya.

Tak Ada yang Baru di Kolong Langit

Tulisan Colin meyakinkan saya bahwa peribahasa “karena nila setitik, rusak susu sebelanga” benar adanya. Pemaparannya yang rapi dan terkesan meyakinkan perihal dampak ontologi terhadap epistemologi dan metodologi ternyata telah tercemari oleh dua titik nila. Secara umum, kerangka yang ia bangun sangat rapi, mulai dari latar belakang, problematiasi, dan kesimpulan. Namun sial, Colin hidup di zaman yang salah. Oleh karena itu argumen utamanya hanyalah sebatas epigon, ia alpa bahwa sudah banyak pandangan serupa—atau bahkan lebih canggih dari akrobat teoretiknya.

Titik nila pertama, upaya Colin meramu relasi ontologi, epistemologi, dan metodologi bukanlah hal baru diranah ilmu politik atau pun filsafat. Duo ilmuwan politik cum filsuf, Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe, sudah lebih dulu menjelaskan pentingnya istilah political—ontologi politik dalam term yang dipakai Colin. Jika Colin berusaha menekankan pentingnya ontologi pada ilmuwan politik, Laclau dan Mouffe berbeda, mereka melihat bahwa dari sejak awal memang sudah ada hubungan antara politics dan political. Hubungan dialektis antra politics yang berupaya mengkaji bagian yang bersifat spasio-temporal, bertumpu pada empirisisme. Sementara political mencoba untuk memberikan hipotesis (rasional, dan bisa dipertanggung-jawabkan) atas fenomena politik, artinya ia melihat apa yang di belakang fenomena, menukik pada level plane of immanence. Colin gagal melihat perbedaan ini, ia hanya menekankan penting bagi ilmuwan politik untuk kembali memperhatikan ontologi politik. Titik nila kedua, perihal fakta bahwa tidak ada analisis ontologi politik yang netral pun sudah kuno atawa jadul. Marx sudah jauh-jauh hari memperingatkan kita soal hal ini dalam ontologi politiknya; perjuangan kelas. Marx menyatakan dengan gamblang bahwa sejarah umat manusia adalah sejarah perjuangan kelas antara kelas penindas melawan kelas tertindas. Oleh karena itulah, analisis politik tidak pernah bersifat netral. Dari pembacaan Colin kita belajar bahwa di bawah matahari yang sama, kebaruan-kebaruan sudah tak ada lagi.

Catatan: Tulisan ini merupakan review jurnal yang dimuat di The Oxford Handbook of Contextual Political Analysis. Oxford University Press (2006) karya Robert E. Goodin & Charles Tilly (eds.) dengan judul yang sama 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: