Menjaring Angin Dari Gunung

Menjaring Angin Dari Gunung

A. A Navis memulai cerpen Angin Dari Gunung dengan pernyatan yang menghentak, “Sejauh mataku memandang, sejauh aku memikir, tak sebuah jua pun mengada.” Sontak kita teringat pada diktum Rene Descartes yang terkenal “Aku berpikir maka Aku ada”. Tapi Navis menggambarkan dengan lain, baginya sejauh aku berpikir ia “tak jua mengada”. Navis melanjutkan tulisannya dengan perasaan yang cemas dan kesepian seorang nihilis. “Semuanya mengabur, seperti semua tak pernah ada. Tapi angin dari gunung itu berembus juga. Dan seperti angin itu juga semuanya lewat tiada berkesan. Dan aku merasa diriku tiada.”

Tokoh Uni Nun menemani si tokoh Aku. Uni Nun bertanya, “Kau punya istri sekarang, anak juga. Kau berbahagia tentu.” “Aku sendiri sedang bertanya.” “Tentu. Karena tiap orang tak tahu kebahagiaannya. Orang cuma tahu kesukarannya saja.” Percakapan tersebut menggambarkan kritik Navis terhadap kebodohan manusia yang selalu melihat kesukaran dari kehidupan daripada mensyukuri nikmat yang sudah diperoleh.

Percakapan terus berlanjut dan mengarah pada cerita nostalgia keduanya. Cerita sembilan tahun yang lalu, ketika berdua saling bergandengan tangan dan menikmati pemandangan. Tapi Navis tak ingin lama-lama menggambarkan keromantisan itu, Uni Nun kini sudah tidak mempunyai jari, bahkan tak lagi punya tangan. “Jari-jariku itu sudah tak ada lagi kini. Kedua tanganku ini, kaulihat? Buntung karena perang. Dan aku tak lagi dapat merasa bahagia seperti dulu. Biar kau menggenggamnya kembali. Mulanya aku suka menangis. Menangisi segala yang sudah hilang. Tapi kini aku tak menangis lagi. Tak ada gunanya menangisi masa lampau. Buat apa?”.  Pernyataan Uni Nun mengingatkan kita pada satu hal yang mengerikan dari perang, yaitu kehilangan. Dalam perang kita bisa kehilangan apa pun baik itu nyawa, harta benda, bagian tubuh, atau orang yang kita sayangi. Uni Nun juga digambarkan sebagai sosok wanita yang tangguh dalam cerpen ini, ia tak pernah berlarut-larut dalam kesedihan.

Uni Nun juga dikenal dengan sebagai gadis yang cantik di Front Barat dan karena kecantikannya itulah ia dikagumi dan dipuja-puja serdadu di sana. Para serdadu menjadi berani dan bersemangat untuk menarik perhatian Uni Nun, tapi Uni Nun mengkritik mereka semua yang bersikap sebaliknya ketika dia tidak ada di Barak. “…Semuanya mau mati-matian dan bekerja berat di depanku. Semuanya mau berjuang membunuh musuh demi mendekatiku. Tapi keitika musuh datang, aku kebetulan tak ada disana, mereka habis lari kehilangan keberanian.”  Jika ditarik pada permasalahan sehari-hari, Uni Nun ingin menjelaskan bahwa banyak orang yang bekerja mati-matian untuk menarik perhatian seseorang tapi itu semua hanyalah sebuah topeng belaka. Kebanyakan orang berbohong pada dirinya, memakai selubung palsu dalam berinteraksi dengan banyak orang agar dapat menarik perhatian semata.

Cerita nostalgia masih berlanjut, kali ini Uni Nun bercerita tentang keinginannya yang ingin melanjutkan pendidikan. “Tapi sekali pernah juga aku berpikir-pikir, bahwa hidup seperti itu tidaklah akan selamanya berlangsung. Suatu masa kelak akan berakhir juga. Dan kalau perang sudah selesai, aku ingin bersekolah lagi. Sekolah apa? aku tak tahu. Yang aku tahu Cuma, tambah banyak ilmu, tambah banyak yang dapat diperbuat. Ya, itulah semua.” Sekali lagi kritik dilontarkan Navis secara tersirat. Selama kritik terhadap masyarakat yang menganggap perempuan tidak harus mengenyam pendidikan yang tinggi. Navis menggambarkan bahwa Uni Nun, seorang perempuan yang gandrung akan ilmu. Bagi Uni Nun, dengan ilmu akan membantu setiap aktivitas manusia, dan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.

Kemudian tokoh Aku merasa kasihan kepada Uni Nun dan ingin membesarkan hatinya dengan bercerita tentang sosok Hellen Keller—tokoh feminis yang cacat—namun diurungkan. Percakapan berlanjut dan tiba-tiba Uni Nun berkata, “Kau kasihan padaku, bukan?”. “Kenapa tidak?,” Jawab tokoh Aku. “Ya. Tentu saja kau kasihan padaku. Karena kau merasa berdiri di tempat yang sangat tinggi, sedang aku jauh di bawahmu. Lalu dari tempat yang itu, kau memandang kepadaku, ‘Oh, alangkah kecilnya kau, Nun, katamu’.” Kritik yang menohok perasaan, sebab kadang kita sering merasa kasihan padahal jauh di lubuk hati kita merasa sombong. Uni Nun melanjutkan penjelasannya bahwa ketika dipandang jijik oleh tokoh Aku yang mengiranya seorang pengemis. Manusia memang cenderung melihat penampilan fisik seseorang, dan terburu-buru dalam menilai.

Di akhir cerita, ada seorang anak yang memanggil Uni Nun, entah siapakah latar belakang anak itu, Navis hanya memberikan gambaran sedikit tentang anak tersebut yang memanggil Uni Nun dengan dengan sebutan nenek. Si gadis kecil yang mengaku memiliki kesamaan nasib. Navis membuat kita bertanya-tanya.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: