Mencari Puisi di Catatan Pinggir

Mencari Puisi di Catatan Pinggir

Saya duduk persis di pojok paling ujung dan dipunggungi Goenawan Mohammad. Sengaja saya pilih duduk di sana, sebab ada dorongan untuk mencari sensasi lain guna menjadi bayang-bayang Sang Nabi bagi para penulis esai di kolong jagad Indonesia. Di sana saya hanya berusaha mengamati tanpa banyak berkomentar sembari mencatat beberapa poin yang saya anggap penting dari acara “Ngobrolin Sastra dan Puisi” yang diselenggarakan di Kafe Basa-Basi (13/08). Sepertinya ini waktu yang tepat untuk mempraktikkan pernyataan Ignas Kleden dalam kata pengantar Catatan Pinggir 2 perihal komentarnya terhadap esai-esai di Catatan Pinggir yang diampu Goenawan berpuluh-puluh tahun itu.

Hilir Mudik Perasaan

Ada banyak kesan yang hadir dan menguap ketika GM membicarakan karya dan proses kreatifnya dalam menulis esai, juga puisi. Atau bagaimana ia berbicara begitu lirih dan beberapa kata tak berbunyi jelas yang mungkin saja jadi cerminan bagi puisi-puisinya, “Di beranda, angin sudah tidak kedengaran lagi”, bagi saya suara beliau sudah tidak kedengaran lagi. Saya curiga, jangan-jangan kuping saya sudah mulai tuli karena terlalu sering mengenakan headset untuk mendengar suara yang jauh di sana ketimbang suara-suara yang dekat, seperti suara burung, suara gemeretak api, gesekan sol sepatu, atau suara lonceng kalung kucing. Betapa bising suara-suara yang jauh itu bagi saya dan seringkali jadi distraksi untuk menginkan ini-itu tanpa tahu mana yang bermakna untuk hidup saya hari ini.

Acapkali saya kehilangan rasa penasaran dan takjub. Perasaan yang demikian sudah tidak mengganggu kehidupan saya lagi seperti saat-saat awal masuk kuliah. Di mana rasa penasaran sekaligus ketakjuban melihat dunia saling tarik-menarik menciptakan bahan bakar untuk belajar yang begitu besar. Tanpa kedua hal itu, hidup saya jadi sedemikian sinis dan mudah mengeluh akan kejumudan rutinitas. Saya akhirnya menyadari ini ketika GM berkata bahwa mengorek biografi puisi membuat kita tidak bisa menikmati pusi yang hadir. Ia tak lagi jadi indah karena dituntut oleh pertanyaan semacam “apa maksud dari puisi ini?”. Tepat di situlah, keindahan puisi berubah jadi teori, jadi rumus, dan jadi mainan para sarjana. Oleh karena itu, ada baiknya puisi dinikmati seperti musik. Kita tak perlu tahu siapa yang mengkomposnya, tak peduli watak penciptanya, tak peduli apa maksud di balik karyanya.

Begitu pula ketika saya kehilangan rasa takjub dan penasaran. Saya tak menikmati proses menghidupi momen dan suasana mengada “di sini dan sekarang”. Saya tak menikmati gairah untuk hadir dan menjadi subjek eksitensial yang “terlempar”, dalam istilah Heidegger, dan terjerembab dalam rumah Ada, yakni Bahasa. Saya tak lagi menikmati puisi karena saya tak pernah lagi secara intensif merasakan perasaan atau hal-hal yang dekat dengan keseharian saya. Spontanitas saya tergeser oleh kepentingan mekanis dan pragmatis selepas lulus dari sarjana.

Mungkin ini adalah sebuah fase perjalanan hidup. Saat-saat di mana saya mulai berpikir bahwa pada dasarnya “puisi pada dasarnya tidak pernah menghasilkan apa-apa”, seperti yang diamini GM pada acara tersebut. Sebagaimana puisi yang sejatinya lebih pas dinikmati ketimbang dipikirkan. Jika tidak bisa dinikmati ya ditinggal saja, toh tak ada pembaca yang benar-benar suci, seperti yang dikatakan Afrizal Malna. Semua orang punya referensi dan selera masing-masing. Acapkali pengalaman belajar dari menikmatilah yang luput dari keseharian kita. Padahal seni, termasuk sastra, mengajarkan pengalaman belajar untuk mengalami bukan hanya dipikirkan. Bagaimana laku adalah satu hal yang penting selain teori. 
Atau jangan-jangan Basa-Basi teoretik (baik sebagai ungkapan atau nama cafe) sudah tak menghibur saya lagi? Atau sudah bosan dengan sikap pengecut bersembunyi dari perasaan diri sendiri di balik kata-kata mahsyur orang-orang besar? Megalomaniak ngehek! Masa-masa anti-inTELEKtualisme par excellence. Saya kira ini konyol. Bagaimana bisa saya bersikap adil pada pengalaman masa kini di satu sisi, semantara saya punya bayangan konsep-konsep ideal yang saya dapat dari teori di buku atau diktat tebal di sisi lain? Apabila dipaksa untuk memilih, pun saya akan lari ke sana, ke dunia ideal, ke gagasan besar para Filsuf atau Seniman.

Sebab memang benar saya pengecut dan senang bersembunyi di balik gagasan-gagasan tanpa betul-betul peduli pada apa yang esensial dalam hidup. Sepertinya saya kecanduan mengkonsumsi gagasan-gagasan layaknya quote-quote motivasi. Kata-kata yang hanya jadi penghias di pojok belakang halaman kenyataan hidup saya. Egois? Ya barangkali.
Pun ketika saya menulis catatan ini, sering kali muncul dorongan untuk mengkontekstualisasikan, alih-alih memanipulasi, teori/gagasan ke kenyataan. Seolah-olah kenyataan haruslah menyesuaikan teori/gagasan, bukan sebaliknya. Saya kira tiap tulisan bukanlah skripsi di Fakultas Filsafat yang acapkali membaca realitas dengan cara yang terbalik macam itu. Konyol memang. Namun, bukan berarti konsep bukanlah hal yang penting. Ia penting sejauh ia bisa menjelaskan kondisi aktual. Pun dalam dunia kesusastraan kebanyakan orang lebih tertarik pada penyairnya bukan karyanya. Dan di mana-mana acara sastra lebih fokus pada pengarang daripada karyanya. Orang berusaha menggali-gali proses kreatif seorang pengarang. Berusaha meniru atau kalau mujur bisa melampauinya.

Puisi Itu Begitu Jauh dan Samar

Puisi-puisi Goenawan memang sangat jauh untuk digapai pembaca awam. Banyak kata-kata yang muncul merupakan kata arkais yang menunjukkan intensitas sang penyair dalam menggeluti kata-kata. Saya kira pemilihan kata dan suasana yang dibangun Goenawan dalam puisi-puisinya adalah pendiriannya yang serba samar, atau mungkin kehati-hatian, dalam menilai. Ketika kita menjumpai topik-topik erotica dalam puisi GM, kita dapat melihat bagaimana ia berhati-hati memisahkan mana yang sekadar sex dan mana yang erotic. Baginya, erotica merupakan suasana di mana sex adalah salah satu bagian saja. Sebagai contoh dalam puisi yang berjudul “Dalam Kemah” yang memadukan suasana erotik ketika berkemah dengan metafor seksual dengan seorang kekasih.

“Sudah sejak awal kita berterus terang dengan sebuah teori: cinta adalah potongan-potongan pendek interupsi – lima menit, tujuh menit, empat … Dan aku akan
menatapmu dalam tidur. Apakah yang bisa bikin kau lelap setelah percakapan? Mungkin sebenarnya kita terlena oleh suara hujan di terpal kemah. 

Di ruang yang melindungi kita untuk sementara ini aku, optimis, 
selalu menyangka gerimis sebenarnya ingin menghibur, hanya nyala tak ada lagi: kini petromaks seakan-akan terbenam. Jam jadi terasa kecil.
Dan ketika hujan berhenti, malam memanjang karena pohon-pohon berbunyi.

Kemudian kau mimpi. Kulihat seorang lelaki keluar dari dingin dan asap napasmu:
kulihat sosok tubuhku, berjalan ke arah hutan. Aku tak bisa memanggilnya.
Aku dekap kamu.
Setelah itu bau kecut rumput, harum marijuana, pelan-pelan meninggalkan kita.”

Dalam puisi itu kita rasakan gatra yang lirih. Bagaimana fenomena di dalam tenda, gerimis, bau harum marijuana membangun suasana erotis ke dalam kehendak diri yang ingin berlama-lama mendekam dalam sanubari si kekasih. Di sinilah saya rasa kita hanya perlu untuk diam dan berhenti mengambil penilaian. Sebab puisi telah selesai dan gerak sejarah tak punya waktu untuk mempermasalahkan kata-kata.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: