Mencari Makna Pendidikan

Mencari Makna Pendidikan

Membicarakan pendidikan adalah hal yang tak ada habis-habisnya. Pendidikan seolah jadi bola panas dalam kehidupan manusia. Bukan tanpa sebab pendidikan akan selalu menjadi perdebatan. Di samping hiruk pikuk politik, ekonomi, dan agama, pendidikan memang sudah galibnya menyangkut aspek-aspek subtil kehidupan manusia. Oleh karena itulah memang sudah sewajarnya kita memaknai ulang pendidikan dari zaman ke zaman.

Manusia modern seperti kita ini sepertinya memang dikutuk untuk tak pernah puas akan segala sesuatu, termasuk pendidikan. Setiap keadaannya saat ini dihayatinya hanya sebagai status quo untuk melangkah lebih lanjut ke kondisi yang ideal. Tak heran ada ungkapan yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang terus-menerus melampaui keadaannya ‘di-sini-dan-kini’ (transcendes the here and now). Secara sederhana dapat diartikan manusia berusaha melampaui apa yang ada sekarang dan mencapai apa yang mungkin di masa mendatang.

Manusia modern perihal pendidikan sering dikaitkan dengan kecenderungan pencapaian prestatif yang kuat. Karena melalui prestasinya itulah dia bisa efektif menciptakan kondisi baru yang memudahkan aktualisasi-dirinya sesuai dengan proyeksinya sendiri. Jean Paul Sartre mengatakan bahwa “man is what he makes of himself”. Artinya bahwa manusia memberi wujud pada kepribadiannya sesuai dengan rancangannya sendiri. Di era pendidikan modern yang ditandai dengan gejala pemassalan dan persaingan, manusia hanyut kesadarannya sebagai pribadi yang mandiri. Bukti kongkretnya adalah para pelajar tak lagi gemar berdiskusi dengan teman sebayanya melainkan asyik bersosmed ria di internet. Karakter dari tiap pelajar tak lagi beragam dan unik. Seolah-olah lembaga pendidikan tak lagi menghasilkan individu berkepribadian kuat melainkan hanya mencetak lulusan yang patuh terhadap modal dan industri.

Pada era modern persaingan sejatinya sudah dimulai sejak individu lahir ke dunia. Tak heran banyak orang tua yang sudah menyekolahkan anaknya sedini mungkin bahkan disertai dengan beragam les yang menunjang keterampilan anak. Bukankah hal tersebut sudah lumrah di zaman yang serba cepat seperti saat ini? Persaingan pun seolah terus berlanjut ke tahap perguruan tinggi. Dengan menggunakan logika kompetisi para peserta didik ditempa lewat proses seleksi sampai lulus dari perguruan tingi! Maka sejak mulai hingga tamat akademisi bangsa ini didik untuk siap mempersenjatai diri guna bertarung di gelanggang kehidupan.

Perguruan tinggi yang ‘katanya’ memberi kesempatan bagi pergumulan berbagai disiplin ilmiah nyatanya tak lebih sebagai mesin pencetak ‘buruh bertangan halus’. Ia senantiasa menjaga status quo kapitalisme di negeri ini. Padahal jika ditilik lebih dalam perguruan tinggi juga berkewajiban memperluas wawasan warganya—karyawan, dosen, mahasiswa—agar mereka tidak terpasung dalam keniskalaan pandangan ‘menara gading’ yang jauh terpisah dari tempat ia berpijak yaitu masyarakat. Akan sia-sia jikalau perguruan tinggi hanya terkurung pada kesempitan pandangan (tunnel vision) laksana terowongan yang memanjang dan sekadar memperlihatkan titik terang pada ujungnya di kejauhan. Padahal perguruan tinggi harusnya menjadi lentera yang senantiasa siap sedia menerangi masyarakat dalam keadaan gelap gulita. Artinya, pendidikan tinggi harus menjadi ujung tombak negara dalam menyelesaikan problem yang ada di masyarakat dengan sebaik-baiknya. Bukan malah abai terhadapnya.

Tantangan Modernisme terhadap Pendidikan

Haruskah kita menyerah pada modernisme? Pertanyaan itu haruslah kita jawab terlebih dahulu. Pasalnya modernisme memberikan banyak tantangan bagi kita untuk memaknai ulang mau seperti apa pendidikan kita ke depannya. Modernisme menjadikan kehidupan semakin keras dan sarat persaingan. Demikianlah dapat kita bayangkan masyarakat modern itu; ia ditempatkan dalam gabungan antara tempo kehidupan yang tinggi dan persaingan yang keras serta pengaturan ketat yang membatasi ruang geraknya. Manusia modern dapat juga dianalogikan ibarat peserta lomba maraton yang diikuti oleh jutaan peserta menempuh jarak yang jauh melalui lorong-lorong sempit nan berliku. Saya rasa kita tak perlu jatuh pada pesimisme yang akhirnya melumpuhkan dinamika kehidupan kita.

Dengan tegas dapat dikatakan saya menolak menjadi bagian orang-orang pesimis yang memandang pendidikan kita ke depannya. Pasalnya pesimisme gampang sekali membawa kita pada pasivisme, bahkan apatisme, yang pada akhirnya bisa menjadi penyebab timbulnya frustasi dan depresi berkepanjangan. Kondisi yang demikian tentunya akan membuat kita senantiasa mengamini pembenaran atas dirinya sendiri (self-justification) dengan cara meletakkan segala kesalahan pada faktor-faktor di luar dirinya, alih-alih melakukan introspeksi kita malah saling menyalahkan. Hal yang lebih ekstrem bahkan kita tak lagi memikirkan bagaimana cara mengatasinya, namun malah melarikan diri dari kenyataan (escapism).

Modernisme ternyata menyimpan sejuta tantangan bagi pendidikan ke depannya. Modernisme secara banal telah mengubah paradigma masyarakat tentang pendidikan. Jika dahulu pendidikan ditujukan sebagai proses memanusiakan manusia, saat ini tentu sudah lain pola pikirnya. Modernisme membentuk paradigma masyarakat yang lebih berorientasi pada gengsi daripada prestasi—gelar sarjana yang berderet menjadi bukti kesuksesan seorang akademisi dibanding dengan kebermanfaatan ilmunya di masyarakat. Secara sederhana pendidikan tak lagi menghargai proses memperoleh pengetahuan melainkan pada hasil yang didapatkan, padahal belum tentu hasil yang didapatkannya itu mencerminkan kedalaman pengetahuan yang dimilikinya. Padahal jika pendidikan yang idealnya mengedepankan prestasi daripada gengsi tentulah ia lebih menghargai proses berkarya seseorang dari hanya sekadar gaya.

Di era yang mengandalkan kuantitas pertumbuhan ekonomi tak jarang pendidikan hanya jadi alat untuk mendulang surplus produksi semata. Maka sudah tak heran jika bangsa yang berusaha mengatasi ketertinggalannya ibarat sedang ‘berbulan madu dengan ekonomi seraya bercumbu dengan teknologi’. Bangsa Indonesia sedang berada dalam keadaan yang seperti dijelaskan tersebut, teknologi dan ekonomi tak hanya bergandengan mesra, melainkan berpadu saling hidup-menghidupi. Keduanya cenderung menunjukkan keberhasilan melalui peragaan yang bersifat materiil; keduanya juga mengacu pada tolak ukur nilai efisiensi sebagai tonggak keberhasilan. Keduanya cenderung berdasarkan kalkulasi dan kuantifikasi dalam konteks untung-rugi. Dalam situasi yang sedemikian kuatnya jangan sampai kita jatuh kepada pandangan distorsif mengenai tujuan pendidikan, yaitu pendidikan yang pembenaran semata-mata “demi menunjang kebutuhan ekonomi’, “demi mendukung industrialisasi”, dan “demi mengejar kemajuan teknologi”.

Pemaknaan Ulang Pendidikan

Pendidikan dalam arti sebenarnya mesti merupakan upaya sadar dan terarah yang ditujukan pada terwujudnya citra manusia sebagaimana dirumuskan dalam idealisasinya. Memang citra ideal itu tak mungkin sampai kepada kesempurnaannya, namun citra itu mestinya tetap menjadi pedoman bagi upaya pendidikan untuk mencapai hasil sedekat mungkin pada citra ideal tersebut. Maka benarlah para pedagog bahwa upaya pendidikan harus jelas arah tujuannya.

Bangsa Indonesia sudah merumuskan secara jelas dalam Bab II pasal 4 UU No 2 tahun 1989 perihal sistem pendidikan nasional, sebagai berikut:

“Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan rohani dan jasmani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan nasional.”

Dengan adanya sistem pendidikan nasional tersebut sekiranya sudah jelas ke mana seharusnya arah pendidikan Indonesia ke depannya, namun sudahkah dalam praktiknya pendidikan kita mengarah kepada hal tersebut? Secara serampangan kita bisa menjawab tidak. Pasalnya akhir-akhir ini pendidikan kita terang-terangan mereduksi hakikat manusia itu sendiri. Para pelajar tidak lagi melihat manusia sebagai makhluk yang patut hargai keberadaannya,—tawuran pelajar nampak tak kunjung usai dari tahun ke tahun—mungkin ini adalah bentuk nyata sistem kompetisi di era modern yang niscaya memandang manusia satu adalah musuh manusia lainnya. Masyarakat sekarang juga rentan berkonflik perihal berbedaan pandangan beragama, padahal jelas-jelas bahwa pendidikan nasional Indonesia menekankan “…manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Maha Esa dan berbudi pekerti luhur…”. Hal yang kontradiktif jika ditelaah, padahal saling bermusuhan antar-umat beragama adalah tindakan yang sama sekali tidak mencerminkan ‘budi pekerti luhur’ yang diidam-idamkan pendidikan nasional kita.

Pada tahap inilah kita dapat berefleksi bahwasanya pendidikan sejatinya erat kaitannya dengan proses didaktik—termasuk juga otodidaktik di dalamnya. Maksud dalam pernyataan tersebut adalah pendidikan bukan sekadar proses belajar. Pendidikan adalah proses didaktis dalam artian terluas meliputi segala peristiwa yang berpengaruh terhadap diterimanya pelajaran, apa pun yang menjadi sumbernya. Di sini pendidikan tentu tak melulu hanya didapatkan di kelas, melainkan meluas ke dalam akar kehidupan bermasyarakat. Pendidikan juga tidak hanya diperoleh dari proses timbal balik antara pendidik dan peserta didik. Melalui pendidikan terjadi pertumbuhan kekayaan pengamatan dan pengalaman yang berjalan seiring perkembangan seseorang dari satu tahap ke tahap lain. Dengan demikian, pendidikan tak hanya dimaknai sebagai proses belajar dan mengajar di sekolah saja. Pendidikan dapat menjadi proses pembelajaran seumur hidup (long life study).

Pendidikan juga meliputi usaha untuk memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai tertentu pada peserta didik. Nilai-nilai ideal yang harus ditanamkan tentunya harus sesuai dengan dimensi kemanusiaan yang tidak mereduksinya sebagai SDM (sumber daya manusia) semata. Jika pendidikan dilakukan untuk mencetak SDM berkualitas tak ada ubahnya kita menjadikan manusia sebagai sekrup-sekrup industrialisasi yang melanggengkan status quo para kapitalis. Memperkenalkan nilai-nilai tentu bukan hal yang sulit, karena perkenalan itu tak lebih dari hasil fungsi kognitif belaka. Kalau sekadar pengenalan nilai yang menjadi tujuan, maka usaha didaktik selesai dengan diperolehnya pengetahuan yang diajarkan. Kalau internalisasi nilai-nilai yang menjadi tujuan, maka pendekatan didaktik dalam arti terluasnya berlangsung sinambung hingga nilai-nilai itu tertanam dan berfungsi sebagai hati nurani. Baru pada tahap inilah bisa dibangkitkan penghayatan (ethos) tentang nilai-nilai, dan bukan sekadar pengetahuan (logos) tentang nilai-nilai.

Setelah menanamkan nilai-nilai kemanusiaan di dalam pendidikan kita haruslah bergerak bahwa pendidikan haruslah berpihak kepada yang pihak yang tertindas. Pendidikan tidak boleh melanggengkan praktik penindasan. Dengan demikian pendidikan tak hanya jadi alat pihak-pihak yang berkuasa lantaran modal. Dengan pendidikan yang memihak pada rakyat tertindas tentunya pendidikan akan mendorong rakyat membebaskan dirinya dari jeratan yang membelenggu dirinya. Pendidikan betul-betul menjadi alat pembebasan dan memerdekakan tiap individu. Pendidikan akan menjadi lentera bagi masyarakat dan tak lagi ponggah dengan sikap menara gadingnya!

NB: Pernah dimuat di Jurnal Mahasiswa LSF Cogito Vol.4 No.1

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: