Konsep Realisme Sosialis Pramoedya Ananta Toer

Konsep Realisme Sosialis Pramoedya Ananta Toer

Pada artikel ini saya menggunakan buku karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia sebagai bahan rujukan. Buku yang awalnya merupakan naskah seminar yang ditulis oleh Pram di seminar Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 26 Januari 1963 ini menjadi sumber primer dalam penulisan makalah ini. Dalam naskah ini Pram mencatat poin-poin penting ihwal sastra bergenre Realisme Sosialis disertai dengan paruh perkembangan sejarah sastra Indonesia secara menarik dan memikat.

Pengertian Realisme Sosialis

Istilah Realisme Sosialis pertama kali muncul di Uni Soviet. Maxim Gorki-lah yang mengenalkannya lewat karyanya yang berjudul Ibunda. Tidak jelas tanggal, bulan, dan tahun pasti, karena istilah “realisme sosialis” itu sendiri timbul di kemudian hari ketika gerakan sastra baru ini telah menjadi kenyataan budaya yang menarik perhatian dunia.

Pada 22 Januari 1905, Maxim Gorki dipenjara karena menulis dan menyebarkan proklamasi menentang pemerintah yang dikenal dengan peristiwa “Minggu Berdarah”. Ketika Gorki ditangkap banyak aksi solidaritas internasional yang melancarkan protes karena ditangkapnya sang sastrawan. Banyaknya protes tersebut membuat Gorki kemudian dilepaskan. Saat berada di penjara itulah Gorki menulis Children of the Sun dan ketika bebas ia langsung bergumul dalam perjuangan memenangkan sosialisme. Gorki kemudian bergabung dalam penerbitan koran Bolsjewik “Hidup Baru”. Penerbitan ini langsung berada dalam komando Lenin. Di sinilah Lenin mulai menganggap penting kekuatan kultural, sastra khususnya, dalam memenangkan sosialisme.

Pada tahun 1905 itu juga merumuskan hubungan antara sastra dan politik, bahwa:

“Kegiatan sastra harus jadi bagian daripada kepentingan umum kaum proletar, menjadi ‘roda dan sekrup’ kesatuan besar mekanisme sosial-demokratik, yang digerakkan oleh seluruh barisan depan klas pekerja yang mempunyai kesadaran politik. Kegiatan sastra harus menjadi unsur daripada garapan partai gabungan sosial-demokratik yang terorganisai dan terencana.” (Toer, 2003: 17).

Dari keterangan pendek itu dapat dilihat bahwa “realisme sosialis” adalah mempraktikkan sosialisme di bidang kreasi-sastra. Maka sastra yang mempergunakan metode ini adalah suatu metode di bidang kreasi untuk memenangkan sosialisme yang selamanya punya warna dan lebih penting lagi adalah politik yang tegas, militan, kentara, tak perlu sembunyi-sembunyi, sesuai dengan nama yang digunakannya. Ia merupakan bagian integral dari mesin perjuangan umat manusia dalam menghancurkan penindasan dan penghisapan atas rakyat pekerja.

Realisme sebagai istilah sastra bukanlah hal yang sebagaimana dikenal di dunia Barat selama ini, tapi realisme menurut dengan tafsiran sosialis. Realisme Sosialis berbeda dengan Realisme Barat. Realisme Barat atau lebih tepatnya dinamakan realisme borjuis, merupakan pembatasan terhadap pandangan seseorang pada realitas an sich tanpa membutuhkan kritik. Sebaliknya, Realisme Sosialis sebagai metode sosialis menempatkan realitas sebagai bahan global semata untuk menyempurnakan pemikiran dialektik. Bagi realisme sosialis, setiap realitas, setiap fakta, Cuma sebagian dari kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri. Realitas tak lain hanya satu fakta dalam perkembangan dialektik (Toer, 2003: 18).

Realisme Sosialis adalah sebuah istilah dengan maknanya yang sudah pasti di negeri manapun dia ada, hanya perkembangannya ditentukan oleh kondisi-kondisi setempat, yakni realisme-ilmiah (MDH = Materialisme, Dialektika, Historisisme) (Toer, 2003: 59). Realisme dengan hukum perkembangannya dan sosialisme ilmiah, atau sosialisme yang lahir sebagai kemestian disebabkan adanya perjuangan antara dua macam kelas yang bertentangan dan berkembang, yakni kelas proletar dan kelas borjuis, dengan tugasnya:

“To examine the historico-economic succession of events from whitch this classes and their antagonism had of necessity sprung, and to dicovering their economic conditions thus crested the means of ending the conflict.” (Engels, 1958: 83).

Realisme Sosialis merupakan ‘anak turunan’ dari paham humanisme. Namn, humanisme tidaklah satu bagian saja, humanisme-sosialis membedakan dirinya dengan humanisme yang lainnya, terutama menjadi lawan dari apa yang disebut dengan “humanisme-borjuis”. Gorki menamai humanisme-sosialis dengan “humanisme-proletar” (Gorki, 1950: 356). Gorki menyatakan, bahwa tidaklah sulit menunjukkan kepalsuan dan hipokrisi humanisme-borjuis:

“the bourgeoises are promoting fascism and discarding their humanism like an out worn mask which can no longr conceal the fangs of the beast of pray are discarding it because they have come to understand that humanism as one of the reasons for their personalities and decays.”

Sedang khusus tentang hipokrisi ini oleh To Huu dikatakan, bahwa:

“Apabila orang dengan gembar-gembor mereka tentang ‘kemerdekaan’ dan ’humanisme’, mau tak mau teringatlah orang pada petualangannya tentang ‘dunia bebas’, ‘Eropa merdeka’, dan sebagainya. Sudah terkenallah, bahwa klas-klas penghisap menyelimuti penghisapan mereka dengan kata-kata muluk.” (Toer, 2003: 21).

Realisme Sosialis itu sendiri bukan hanya penamaan suatu metode dalam bidang sastra, tapi lebih tepat dikatakan sebagai suatu hubungan filsafat, metode penggarapan dengan apresiasi estetiknya sendiri. Istilah Realisme Sosialis mencakup pula persoalan strategi dan taktik, sekalipun di bidang sastra haruslah memiliki nafas perlawanan terhadap segala yang berbau ‘humanisme-borjuis’ dan memenangkan ‘humanisme-proletar’.

Sampai pada tahap ini kemudian masuklah pada pembahan ihwal watak dari Realisme Sosialis. Pertama, militansi sebagai ciri tak kenal kompromi dengan lawan. Dua, karena segaris dengan perjuangan politik sosialis, maka dia terus-menerus melakukan effensi atas musuh-musuhnya dan pembangunan yang cepat di kalangan barisan sendiri. Dalam watak sastra Realisme Sosialis selalu tampak adanya peringatan, bahwa kapitalisme adalah musuh manusia dan kemanusiaan. Sastra Realisme Sosialis tidak pernah memberikan kompromi dengan musuh-musuhnya, karena yang demikian sudah menyalahi sosialisme sendiri, sedangkan sastra memang bukanlah politik yang berusaha mendapatkan kemenangan semutlak mungkin atas lawan.

Realisme Sosialis di Indonesia

Pada tanggal 17 Agustus 1950 organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) berdiri dan secara implisit mengusung metode Realisme Sosialis sebagai alat pejuangan. Organisasi yang diinisiasi oleh D.N. Aidit, M.S. Ashar, A.S. Dharta, dan Nyoto ini berisikan golongan seniman yang lebih mementingkan realitas, dan dihayati oleh keyakinan akan kebenaran sosialisme. Kelahiran Lekra bisa dinilai sebagai reaksi terhadap realitas politik kultural yang mencemaskan saat itu. Meminjam kata-kata Ho Chi Minh dalam pidatonya tentang pengarang-pengarang Tiongkok, “Orang bilang, di Tiongkok sana, mula-mula jadilah seorang komunis, baru kemudian jadi pengarang.” (Toer, 2003: 94).

Sastra Realisme Sosialis itu sendiri bagi Pramoedya dapat dimengerti dengan sastra gaya duren sebab mempunyai banyak persamaan dengan sifat duren atau durian. Sebab, sebelum melihatnya sekalipun, dari jauh orang sudah bisa mencium baunya. Bila dihampiri terdapat benteng berduri yang bersifat defensif sekaligus agresif, serta kokoh, lalu di dalamnya tersusun rapi dagingnya yang lezat, gurih, dan legit.

Pramoedya Ananta Toer menjelaskan bahwa terdapat dua hal dalam karya seni yang berusaha memenagkan Realisme Sosialis: a. Memperkuat kesadaran politik; b. Memberikan pegangan taktis.

  1. Memperkuat kesadaran politik sebagai kebutuhan peningkatan kekuatan politik. Sesuai dengan kenyataan bahwa musuh-musuh rakyat tidak akan tinggal diam dan terus mencari jalan untuk meneruskan “penghisapan manusia atas manusia” dalam berbagai bentuk kesadarannya.
  2. Memberikan pegangan taktis sebagai kebutuhan mengembangkan keahlian dan pelaksanaan mengemukakan, mengungkapkan, dan mengenal pokok persoalan. (Toer, 2003: 97)

Lalu merumuskan empat cara membentuk kemampuan membuat semboyan ke dalam slogan-slogan:

  1. Garis yang Tepat dan Garis yang Salah adalah semboyan untuk tetap menguasai persoalan asasi dalam dunia kebudayaan dewasa ini. Di mana dalam keadaan ini terdapat dua kekuatan yang saling berhadapan. Suatu pertarungan prinsipil antara seni untuk rakyat dan seni untuk seni. Garis yang Tepat adalah garis pengabdian pada rakyat dan Garis yang Salah adalah pengabdian pada borjuasi dan segala buntut serta ramuannya. Sedangkan garis yang keliru adalah yang dapat dikelabui oleh buntut atau ramuan daripada Garis yang Salah.
  2. Meluas dan Meninggi adalah semboyan untuk pegangan prinsipil dan politik, serta taktik kreatif. Meluas dalam arti perangkuman pengetahuan tentang massa, kehidupan, masalah, aspirasi-aspirasi sosialnya. Sedangkan Meninggi dalam arti peningkatan mutu kreatif yang harus dibarengi dengan peningkatan terus-menerus mutu ideologi. Sehingga dapat dibilang sebagai gabungan antara peningkatan mutu ideologi dan artistik, gabungan antara politik dan kebudayaan.
  3. Politik adalah Panglima merupakan semboyan pegangan, agar sebelum melakukan penggarapan seni, orang harus mengkajinya dari sudut pandang politik. Sebab, kesalahan dalam politik lebih jahat daripada kesalahan artistik.
  4. (Gerakan) Turun ke Bawah adalah semboyan yang di dalamnya mengandung ketentuan, bahwa untuk dapat menguasai realitas kehidupan massa atau rakyat, setiap pengarang harus bisa dan membiasakan diri memasuki kehidupan rakyat itu sendiri. Belajar dari setiap pengalaman rakyat, dan ikut merasakan suka maupun duka bersama dengan rakyat. (Toer, 2003: 97-101).

Sampai di tahap ini para pengarang Lekra haruslah mengamalkan empat semboyan atau asas tersebut ke dalam karya-karya yang mereka buat. Dengan asas atau semboyan itulah para seniman yang tergabung dalam Lekra dapat ikut berjuang memenangkan sosialisme di Indonesia.


NB: Artikel ini dibuat untuk presentasi matakuliah estetika di Fakultas Filsafat UGM yang diampu oleh Dr. Sudaryanto.

Daftar Pustaka:

Engels, Friedrich. 1958. Socialism: Utopia and Scientific. Moscow: Foreign Language Publishing House.

Gorki, Maxim. 1950. Articles and Pamphlets. Moscow: Foreign Languages Publishing House.

Toer, Pramoedya Ananta. 2003. Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: Lentera Dipantara.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: