Konsep Manusia Sartre

Konsep Manusia Sartre

Jean Paul Sartre lahir di Paris pada tanggal 21 Juni 1905. Ayahnya perwira angkatan laut Prancis dan ibunya, Anne Marie Schweitzer, anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan dari Charles Schweitzer, seorang guru bahasa dan sastra Jerman di daerah Alasace. Diusianya yang ke tujuh belas Sartre lulus dari sekolah diploma elit dengan mendapat gelar baccalaureate.

Pada tahun 1924 ia melanjutkan studinya di Ecole Normale Superieure dan menjadi profesor filsafat di Le Havre (1931-1933) kemudian selama setahun ia belajar di Berlin. Sekembalinya dari Berlin ia mengajar di Laon dan Paris. Di saat menempuh studi tersebut ia bertemu seorang mahasiswi yang kemudian menjadi teman hidupnya yaitu Simone de Beauvoir. Simone sendiri di kemudian hari menjadi penulis dan filsuf feminis yang terkenal.

Perdebatan tentang manusia menjadi tema yang tidak akan pernah habis untuk diperbincangkan. Manusia kerap dihadapkan pada pertanyaan mendasar tentang siapakah sejatinya dirinya? Apa sekiranya tujuan keberadaan mereka di dunia? Bagaimana seharusnya ia hidup sebagai manusia? Pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti ini telah banyak dikupas oleh para filsuf dari berbagai era dan aliran pemikiran filsafat. Jean-Paul Sartre (1905-1980) merupakan salah satu filsuf yang akrab menggelutinya, terutama dalam kerangka pemikiran eksistensialismenya.

Pada Perang Dunia II Sartre direkrut menjadi tentara Prancis dan pernah dipenjara sembilan bulan menjadi tawanan perang. Pada tahun 1941 ketika ia berhasil meloloskan diri dari tempat tawanan ia menjabar dosen lagi di Paris hingga tahun 1945. Setelah bebas ia aktif menjadi penulis dan menerbitkan beberapa karya yang beraliran eksistensialis antara lain Being and Nothingness, The Flies, and No Exit. Setelah Perang Dunia II ia aktif sebagai aktivis politik dan juga seorang marxisme. Tahun 1964 Jean Paul Sartre mendapat nobel di bidang sastra tapi ia menolak  dengan alasan politik. Sartre meninggal pada 15 April 1980 kerena penyakit paru.

Jean Paul Sartre dalam pemikirannya banyak dipengaruhi oleh fenomenologi Husserl dan Heidegger. Dari fenomenologi Husserl, Sartre melihat dua hal penting. Pertama, perlunya menempatkan kesadaran sebagai titik tolak untuk kegiatan-kegiatan atau penyelidikan-penyelidikan filsafat. Kedua, pentingnya filsafat untuk “kembali kepada realitasnya sendiri” (Zu den sachen selbst). Pemikiran Sartre lebih dekat dengan fenomenologi Heidegger di mana beberapa konsepsi Heidegger coba diambil alih dan dimodifikasi oleh Sartre. Baik itu dalam hal realitas maupun dalam hal analog-analog yang terdapat di dalam pengertian dari konsep-konsep yang dikemukakan oleh Sartre.

Dalam Saint Genet, Sartre merumuskan seluruh usaha filsafatnya dalam satu kalimat pendek yaitu “merekonsiliasikan (mendamaikan) subjek dan objek.”  Usaha ini barangkali didorong oleh pengalaman fundamental Sartre tentang kebebasan (diri sebagai subjek) dan tentang benda (objek). Kedua pengalaman ini, menurut pandangan Sartre, merupakan simbol kondisi manusia yang (di satu pihak) menganggap dirinya sebagai makhluk bebas, tetapi (di lain pihak) selalu dihadapkan pada kuasa atau daya tarik benda. Dalam pandangan Sartre, pengalaman tentang kebebasan dan tentang kesadaran diri, bukanlah pengalaman yang mudah dan mengenakkan. Kebebasan dibebankan kepada kita oleh situasi yang tidak kita pilih, dan tanpa alternatif lain kita harus menerimanya begitu saja. Selain itu, kebebasan sangat rapuh dan selamanya berada dalam posisi yang rentan dan terancam sehingga tidak dapat diandalkan sebagai sandaran yang kokoh untuk hidup kita.

Konsep manusia menurut Sartre terdapat dalam bukunya yang berjudul L’etre et le neant (keberadaan dan ketiadaan) tahun 1943. Menurut Sartre, ada dua macam “berada”, yaitu l’etre en soi (berada dalam diri) dan le’etre pour soi (berada untuk diri). Berada dalam diri merupakan berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Berada merupakan ciri segala benda jasmaniah, segala materi. Segala yang berada dalam diri mempunyai sifat padat, beku, tertutup, yang satu lepas daripada yang lain, tanpa saling berhubungan. Tidak ada alasan mengapa benda-benda tersebut berada. Benda-benda tidak mempunyai hubungan dengan keberadaannya.

Sartre juga menggagas kebebasan untuk menegaskan idealismenya. Menurutnya manusia adalah makhluk di mana eksistensi mendahului esensi, artinya manusia itu harus ‘berada’ terlebih dahulu baru kemudian menjadi ‘ada’. Konsep ini mengandaikan bahwa manusia itu pada awalnya adalah kosong dan tidak memiliki apa-apa. Tetapi, kekosongan itu kemudian diisi oleh kebebasannya untuk memilih. Untuk lebih jelas dalam menggambarkan hal tersebut dalam buku Filsafat Barat Kontemporer, K. Bertens menggambarkannya dengan sebuah  gelas. Gelas yang biasanya kita gunakan sebagai alat atau benda untuk minum mempunyai ciri-ciri tertentu. Si tukang yang membikin gelas itu sebelumnya sudah tahu apa yang akan ia buat. Gambaran itu mau menunjukkan tentang esensi dari benda itu. Secara gamblang Sartre, dalam karyanya yang berjudul Existensialism and Humanism, membuat suatu konsep pandanganya tentang manusia.  

Existensialism and Humanism merupakan salah satu karya representatif eksistensialisme Sartre. Karya ini awalnya merupakan ceramah yang presentasi dan publikasinya dimaksudkan sebagai tanggapan terhadap kritik-kritik yang ditujukan kepada pemikirannya, sekaligus upayanya untuk mempertegas konsep pemikiran eksistensialismenya. Sartre barangkali tidak pernah secara langsung mengungkapkan maksud proyek eksistensialismenya sebagai sebuah kajian filosofis tentang manusia. Tetapi dalam Existensialism and Humanism terlihat sekali bahwa Sartre berupaya mencerahkan pembacanya melalui tesis-tesis dan argumentasi filosofis tentang siapakah manusia dan bagaimana seharusnya menjadi manusia. Berangkat dari asumsi itu, berikut ini penulis berupaya menggali dan memperkenalkan konsep Sartre tentang manusia dengan memanfaatkan pembacaan terhadap karyanya, Existensialism and Humanism dan tunjang dengan berbagai literatur guna melengkapi pandangan Sartre tentang konsep manusia.

Diharapkan dengan artikel singkat ini kita dapat memahami konsep manusia menurut pandangan Sartre secara utuh. Artikel ini juga diharapkan dapat mempermudah setiap orang yang ingin mempelajari konsep manusia dari pandangan seorang eksistensialis, Sartre.

Konsep Manusia Menurut Sartre?

Manusia adalah kebebasan, kata Sartre.  Dengan mengatakan ini Sartre mau memberikan sebuah penjelasan kepada manusia bahwa dirinya adalah kebebasan itu sendiri. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa manusia dapat didefinisikan sebagai kebebasan. Dengan mengatakan itu semua Sartre memberikan corak humanisme dalam pemikirannnya. Kebebasan bagi Sartre berarti menentukan sebuah pilihan dari sekian banyak pilihan yang lain. Manusia pada dasarnya bebas untuk mengadakan suatu pilihan atas jalan hidupnya sendiri tanpa harus didekte oleh orang lain.

Kebebasan bukan berarti “lepas sama sekali” dari kewajiban dan beban. Menurut Sartre, kebebasan adalah sesuatu yang erat kaitannya dengan tanggung jawab, dan tidak bisa dipisahkan.  Dengan demikian Sartre sebenarnya mau mengatakan bahwa sebenarnya kebebasan yang dimiliki oleh manusia itu juga mengandaikan adanya suatu tanggung jawab. Tanggung jawab melekat pada kebebasan yang dimiliki oleh manusia.

Menurut Sartre, eksistensi yang murni adalah apa yang nyata. Eksistensi manusia adalah ketiadaan. Kesadaran bersifat meniadakan,peniadaan itu tampil di dalam kesadaran diri. Hal ini menyebabkan manusia terus-menerus berbuat, melakukan sesuatu. Jadi perbuatan adalah suatu perpindahan. Perpindahan dimaksudkan bahwa manusia meniadakan masa lalunya dan berusaha mencapai sesuatu yang belum ada atau yang pada waktu itu tidak ada. Dalam hal ini, manusia senantiasa memilih, membuat pilihan yang dilakukan dalam kebebasan. Jadi, berada untuk diri sama dengan kebebasan, hakekat manusia adalah kebebasan. Namun, kesadaran akan kebebasan ini menimbulkan rasa cemas sebagai ketakutan yang asasi, yang dasariah. Gagasan Sartre tentang manusia diselipkan dalam kajiannya tentang beberapa konsep dasar eksistensialismenya seperti ‘Eksistensi Mendahului Esensi’ dan ‘Humanisme’. Dalam kedua konsep tersebut, penelusuran tentang ‘siapakah manusia’ itu akan dilakukan.

Eksistensi Mendahului Esensi

Eksistensi mendahului esensi (Existence comes before Essence) merupakan salah satu konsep penting dalam bangunan eksistensialime Sartre. Apa yang dimaksud oleh Sartre dengan konsep ini? Sartre berupaya mengukuhkan subjektivitas manusia, dan di sisi lain menendang jauh-jauh keberadaan Tuhan dengan segala argumentasi prndukungnya. Subjektivitas manusia dan keberadaan Tuhan, menurutnya seperti berada pada polaritas yang berbeda dan saling meniadakan. Untuk mengukuhkan subjektivitasnya, manusia harus menyingkirkan Tuhan, karena subjektivitas tak pernah bertoleransi dengan segala bentuk determinisme.

Untuk menjelaskan konsep eksistensi mendahului esensi, Sartre memulainya dengan memakai contoh pembuatan pisau kertas (paper-knife) oleh seorang artisan. Apa yang terlebih dahulu exist tentu bukan produk material pisau, tetapi segala konsep tentang pisau baik itu bentuk, cara pembuatan, maksud dan cara penggunannya. Konsep ini ada di dalam benak artisan sebagai pre-existent technique. Logika ini adalah logika esensi mendahului eksistensi, jalan berpikir yang tidak bisa dikenakan pada Tuhan yang secara de facto tidak bereksistensi. Ketika menyebut Tuhan sebagai Pencipta, sebetulnya kita sedang mengenakan pada Tuhan model kerja seorang artisan. Ketika menciptakan manusia, kita menganggap bahwa dalam benak Tuhan telah hinggap berbagai konsep tentang esensi manusia, entah kodrat manusia sebagai makhluk rasional, citra Tuhan, ens sociale, dan sebagainya.

Konsep seperti inilah yang ditentang Sartre melalui eksistensialisme ateistiknya: “Oleh karena Tuhan tidak exist maka setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya mendahului esensinya, makhluk yang ada sebelumnya dapat dibatasi oleh konsep-konsep tentang eksistensinya. Makhluk itu adalah manusia.” Dengan tesis inilah Sartre menegaskan hakikat manusia sebagai being yang eksistensinya ada sebelum esensinya. Di sisi lain, keberadaan Tuhan dibatasi oleh berbagai definisi manusia tentang eksistensinya sendiri. Artinya, Tuhan ada sejauh manusia mendefinisikannya atau tegasnya, Tuhan hanya merupakan ciptaan atau buah ‘peng-atribut-an’ oleh manusia saja.

Sampai di sini, pertanyaan pokok yang diajukan adalah profil manusia macam manakah yang dimaksudkan Sartre dengan ‘manusia yang bereksistensi sebelum esensi?Pertama, Manusia sebagai Adalah’. Eksistensi mendahului esensi berarti bahwa “manusia pertama-tama itu ada, menjumpai dirinya, mentas ke dalam dunia dan kemudian mendefinisikan siapa dirinya.” Manusia tidaklah menjadi apa-apa sebelum ia menjadi apa yang dikehendakinya sendiri untuk menjadi. Maksudnya adalah pada awal keberadaannya, manusia tidak mengenakan definisi apapun tentang dirinya. Dalam artian tersebut, Sartre menolak segala konsepsi tentang kodrat manusia sebab baginya tidak ada Tuhan yang memiliki konsepsi apapun tentang manusia. Sebagai makhluk yang bereksistensi sebelum esensi, manusia tidak terikat atau terbelenggu pada berbagai patokan definisi tentang dirinya. Manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri siapakah dirinya. Itulah sebabnya mengapa Sartre menyebut Manusia sebagai ‘Adalah’ (Man simply is). Manusia selalu terus-menerus bergerak maju memformulasi dirinya.

Pada titik ini kita menemukan nilai yang terkandung dalam konsep kemanusiaan Sartre. Sartre berargumen bahwa “Manusia bukan apa-apa, tetapi apa yang ia lakukan pada dirinya sendiri.” Artinya, manusia secara penuh adalah apa yang ia kehendaki sendiri. Dalam konteks tersebut, Sartre hendak menegaskan bahwa sejak keberadaannya, setiap manusia memikul tanggung jawab untuk menentukan dirinya sendiri dalam ruang kehidupannya masing-masing. Dengan demikian, pengaruh pertama eksistensialisme menurut Sartre adalah menempatkan setiap manusia pada kepemilikan atas dirinya sendiri sebagaimana adanya dia, dan menaruh seluruh tanggung jawab atas keberadaannya di atas pundaknya sendiri.

Maka karakter kedua manusia versi Sartre adalah manusia yang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Sampai di sini bukankah kita mendapatkan kesan bahwa manusia  dalam konsep Sartre adalah subjek-subjek tertutup yang semata-mata bertanggung jawab atas dirinya sendiri? Lalu di manakah letak tanggung jawab manusia terhadap lingkungan sosialnya? Untuk mengatasi pandangan ekstrim tersebut Sartre berupaya membuat dua arti berbeda terhadap konsep subjektivismenya. Subjektivisme di satu sisi berarti kebebasan individual subjek, yakni kebebasan dalam memilih dan menentukan hidupnya sendiri. Di sisi lain, terdapat arti bahwa manusia tidak dapat melampaui subjektivitas manusia. Ketika manusia memutuskan memilih sesuatu dalam konteks mewujudkan dirinya, tentulah ia akan memilih apa yang bernilai baik untuk dirinya, dan dengan sendirinya pilihan itu bernilai baik untuk sesamanya. Dalam arti inilah Sartre melihat letak tanggung jawab individu seseorang pada sesamanya. Oleh karena itu, manusia dalam konsep pemikran Sartre bukan saja bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, tetapi juga bertanggung jawab atas kemanusiaan sesamanya.

Humanisme Radikal

Sartre juga mengemukakan konsepnya tentang humanisme. Humanisme dalam pandangan Sartre mempunyai karakter yang radikal. Sartre berusaha menyingkirkan sama sekali nilai-nilai yang sudah dibangun  oleh kepercayaannya terhadap Tuhan, dan segala norma yang terkait dengannya. Hanya dengan begitu, setiap manusia dapat menemukan ruang untuk berkreasi menghasilkan nilai-nilai yang dialaminya dalam hidup. Dengan kata lain, penyingkiran Tuhan adalah satu-satunya cara tepat untuk memungkinkan manusia menghidupi individualitasnya. Itulah sebabnya dengan mengutip perkataan Dostoyevsky, Sartre berkata, “Jika Tuhan tidak ada, segala sesuatu akan menjadi mungkin.” Manusia akan lepas dari belenggu kebenaran-kebenaran yang dicerap dari luar, bebas dari beragam determinasi religius-etis dan menjadi tuan atas dirinya sendiri.

Dengan konsep ini, humanisme Sartre sebetulnya berusaha menciptakan hakikat manusia sebagai makhluk yang bebas. Manusia menggenggam dalam tangannya sendiri kebebasan untuk menentukan hidupnya. Maksudnya adalah manusia diberi kebebasan yang menurut Sartre, tidak melulu berupa kondisi bebas dari tekanan dan determinasi, tetapi juga keleluasaan di dalam menjalankan tanggung jawab dan tindakan yang perlu bagi kemanusiaannya. Manusia selalu berupa aksi dan kreasi untuk merealisasikan diri. “Ia tidak dapat lain selain serangkaian tindakan dengan dirinya sebagai rangkaian, organisasi, sekumpulan relasi yang menetapkan tindakan-tindakan ini”, begitu kata Sartre. Menentang tuduhan para komunis, Sartre menampilkan model manusia eksistensialnya sebagai manusia yang tidak berkubang dalam ke-pasif-an, tetapi bergerak maju merealisasikan diri. Manusia seperti ini memiliki komitmen-diri (self-commitment) atas kehidupannya dan karena itu selalu melibatkan dirinya melalui pilihan tindakan-tindakan subyektifnya.

Manusia dalam kosep pandangan Sartre memang bukan manusia yang sempurna. Kehadirannya selalu merupakan suatu proyek yang belum tuntas terselesaikan. Nilai dan makna dari kemanusiaan manusia senantiasa ditentukan oleh setiap pilihan yang dibuat dan komitmen yang dijalani. Sehingga berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi manusia yang sempurna. Namun sebenarnya, kesempurnaan terletak sepenuhnya pada kemauan manusia itu sendiri untuk menjadi sempurna. Tetapi dengan ini Sartre tidak memaksudkan pandangan humanisme tradisional yang menempatkan manusia sebagai tujuan dari dirinya sendiri atau manusia sebagai nilai tertinggi. Sebab kemudian Sartre mengkonsepkan adanya tujuan-tujuan transenden yang pencapaiannya dimungkinkan oleh sifat manusia sebagai makhluk yang mampu melampaui dirinya (self-surpassing). Pelampauan atau transendensi ini tidak terarah pada tujuan tertentu seperti halnya dalam istilah, manunggaling kauwulo Gusti atau Penyatuan dengan Yang Absolut. Manusia hanya perlu berupaya menyempurnakan kesadarannya sebagai manusia bebas dan yakin bahwa keberlangsungannya bergantung sepenuhnya pada totalitas tindakan yang dipilihnya setiap hari. Dengan begitu manusia memang memberi jaminan untuk kehidupannya sendiri.

Kesimpulan

Memang harus diakui kegeniusan seorang Sartre. Dia tidak melahirkan suatu metode filsafat yang baru, tetapi bertitik tolak pada fenomenologi dan dari fenomenologi ini Sartre dapat menjelaskan apa itu ada. Konsep pemikiran Sartre yang menekankan keabsolutan kebebasan manusia; bahwa kebebasan manusia itu tidak memiliki batas, oleh karena itu dengan kebebasannya manusia dapat mengatur dirinya sendiri, menentukan pilihan dan bahkan menentukan kehidupan yang akan datang, membawa Sartre jatuh dalam konsep ateisme. Jatuh dalam konsep ateisme hendak mengatakan bahwa Sartre tidak mengakui adanya Tuhan. Dengan kata lain bahwa jika Tuhan itu ada, tidak mungkin saya bebas. Tuhan itu adalah mahatahu akan apa yang yang saya lakukan (sebelum dan sesudahnya), sehingga Tuhan itulah yang memberikan hukum dan penilaian terhadap saya. oleh karena itu konsep mengenai kebebasan adalah tidak ada (karena bertolak pada Tuhan, dan bukan pada diri saya sendiri sebagai penentu masa depan dengan segala kebebasan dan pilihan serta keputusan).

Pandangan mengenai kebebasan manusia menurut Sartre memang merupakan pandangan yang dapat dikatakan ekstrim. Kebebasan yang digagas oleh Sartre sebenarnya ingin menyampaikan bahwa hanya manusialah yang memiliki kemampuan sebagai makluk yang berada. Kebebasan manusia tampak dalam kecemasan. Kecemasan menyangkut dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa eksistensi saya seluruhnya bergantung pada dirinya. Karena eksistensi manusia bergantung pada diri manusia itu sendiri maka manusia sendirilah yang merupakan pengendali atas dirinya sendiri. Manusia adalah penentu satu-satunya bagi dirinya dalam mengambil setiap keputusan yang ada.

Ada dua sisi positif yang dapat kita lihat dari pemikiran Sartre ini tentang kebebasan. Sartre sesungguhnya mencetuskan dan mengangkat serta menegaskan kembali kodrat manusia yang dibawa sejak lahir. Pertama, Sartre, menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki kapasitas yang luar biasa; makhluk yang memiliki kesadaran dengan segala kebebasan dapat menentukan pilihan hidupnya. Sartre sesungguhnya secara tidak langsung merangsang kita untuk berpikir kritis keberadaan hidup kita sebagai manusia. Dia sebenarnya mengajak kita untuk mengutamakan nilai hidup manusia. Kedua, Sartre memberikan suatu gagasan yang membuat manusia untuk tidak takut lagi dalam mengambil sebuah keputusan dalam hidupnya karena keputusan final hanya ada pada diri manusia itu sendiri. Apapun pilihan yang diambil oleh setiap manusia mengandaikan adanya suatu tanggung jawab atas dirinya sendiri.

Dewasa ini mungkin banyak dari manusia lari dari kenyataan yang sering kali membuat dirinya takut dalam mengambil keputusan, ia lebih baik lari dari kenyataan daripada harus dihadapkan pada sebuah pilihan yang menekan hidupnya. Karena tidak tahan dan tidak memiliki kemampuan serta keberanian yang besar atas dirinya manusia sering kali lari. Selain itu, manusia juga sering kali tergantung pada orang lain dalam mengambil keputusan. Akibat ketergantungan itu banyak manusia tidak dapat memunculkan “ke-ontektik-an” dirinya. Diri manusia sering kali mengekor pandangan oranglain. Ia tidak menjadi manusia yang mandiri, bahkan terombang-ambing. Pemikiran yang digagas oleh Sartre tentang kebebasan ini kiranya dapat membuka mata hati setiap manusia bahwa, manusia pada dasarnya adalah pemegang kendali atau nahkoda bagi dirinya sendiri. Akan tetapi pemikiran Sartre ini juga memberikan suatu ketakutan bagi manusia karena bagi Sartre, seandainya Tuhan ada maka kita tidak mungkin akan bebas.


Sumber Utama:

Sartre, Jean-Paul. Existensialism and Humanism. London: Methuen & Co. Ltd. 1960.

Sumber Penunjang:

Abidin, Zainal. Filsafat Manusia disadur dari buku Herbert Spiegelberg, The Phenomenological Movement. The Hague: Martinus Nijhoff. 1971.

Bertens, K. Filsafat Barat Kontemporer Prancis. Jakarta: Gramedia. 2006.

Dister, Nico Syukur. Filsafat Kebebasan. Yogyakarta: Kanisius.

Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius. 1980.

Palmer, Donald, D. Sartre Untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius, 2003.

http://www.biography.com/people/jean-paul-sartre-9472219#later-life-and-death

1 Comment

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: