Hermeneutika Ontologi: Analisis Film Life of Pi

Hermeneutika Ontologi: Analisis Film Life of Pi


Life of Pi adalah sebuah mahakarya yang bisa dibilang menakjubkan. Film ini menceritakan banyak hal mulai dari persahabatan seekor harimau dengan manusia, seseorang yang menganut tiga kepercayaan sekaligus, sampai keindahan alam yang ada di luasnya samudera. Sebuah film yang diangkat dari buku novel yang berjudul sama ini di tulis oleh Yann Martel yang berasal dari Kanada. Novel tersebut dirilis pada tahun 2001 dan memenangkan penghargaan Man Booker Prize pada tahun 2002.

Menurut data Nielsen Bookscan, buku ini sudah terjual 1,3 juta buku. Bagian penting dari sebuah film adalah sang sutradara dan terpilih sebuah nama yang berasal dari Taiwan yaitu Ang Lee membuat film ini menjadi menarik. Dia pernah menerima piala Oscar dua kali sebagai sutradara terbaik dalam ajang Academy Award. Bahkan di tahun 2013 sebuah penghargaan sudah menantinya yaitu Filmmaker Award dari sebuah ajang Motion Picture Sound Editor Golden Reel Awards. Orang-orang yang pernah menerima penghargaan serupa adalah George Lucas, Michael Bay, Steven Spielberg dan Client Easwood. Life of Pi adalah film yang penuh akan makna yang tersirat di dalamnya. Diperlukan analisis yang mendalam guna memahami makna yang terkandung di dalamnya, oleh karena itu metode Hermeneutika Ontologi yang dikembangkan Martin Heidegger dapat menjelaskan makna yang tersembunyi tersebut.

Sekapur Sirih Hermeneutika Ontologis

Kelalaian paling mendasar para filsuf adalah lupa akan Ada. Rene Descartes telah menemukan cogito dengan digtum yang terkenal cogito ergo sum, tapi ia tidak pernah mempertanyakan sum (ada) itu sendiri. Ada selalu diandaikan begitu saja, tanpa pernah dipertanyakan. Kesadaran bukanlah segala-galanya, melainkan hanya salah satu bentuk penyingkapan Ada. Bukan kesadaran yang menentukan Ada, melainkan Ada yang menentukan kesadaran. Demikianlah Heidegger memulai proyek raksasa filsafatnya, dari pertanyaan tentang Ada. Ia telah memporak-porandakan bangunan filsafat modern yang selalu bertolak dari kesadaran atau subjek. Model filsafat ini, bagi Heidegger, betul-betul mereduksi bahkan menzalimi realitas (ada). Realitas tidak bisa dikungkung dalam kesadaran subjek.

Pemikiran Heidegger kental dengan nuansa fenomenologis, meskipun akhirnya Heidegger mengambil jalan berbeda dari prinsip fenomenologi yang dibangun Husserl. Kesadaran, menurut Husserl, selalu mengandaikan terarah kepada sesuatu di luarnya, intensionalitas.[1] Heidegger meradikalkan prinsip intensionalitas ini dengan mengatakan, bahwa kesadaran bukan hanya sadar akan sesuatu, yaitu memiliki isi tematis tertentu, melainkan terlebih sadar sebagai sesuatu. Kita tidak sekedar sadar akan sesuatu, melainkan sesuatu itu turut membentuk kesadaran kita. Banginya Ada yang lebih utama daripada kesadaran. Kesadaran adalah cara Ada menampakkan diri. Artinya, fenomenologi Husserl lebih bersifat epistemologis karena menyangkut pengetahuan tentang dunia, sementara fenomenologi Heidegger lebih sebagai ontologi karena menyangkut kenyataan itu sendiri.[2] Heidegger menekankan, bahwa fakta keberadaan merupakan persoalan yang lebih fundamental ketimbang kesadaran dan pengetahuan manusia, sementara Husserl cenderung memandang fakta keberadaan sebagai sebuah datum keberadaan.[3] Heidegger tidak mengkotakkan realitas dalam kesadaran subjektif, melainkan pada akhirnya realitas sendiri yang menelanjangi dirinya di hadapan subjek.

Poros pemikiran Heidegger bermuara pada apa yang disebut pembedaan ontologis (ontologishe differenz), yaitu antara Sein dan Seinde, Ada dan Mengada. Seinde biasanya diterjemahkan sebagai “Adaan.” Seinde harus dipahami secara aktif, yaitu mengada, karena ia tidak tergeletak begitu saja, melainkan bermukim. Istilah “Being-in-the-world” bukan hanya ada di dalam dunia, melainkan bermukim, ada nuansa aktivitas di sana. Untuk memahami Ada, menurut Heidegger, kita harus memulai dari Mengada yang bisa mempertanyakan Ada. Tidak semua Mengada bisa bertanya tentang Ada. Yang bisa melakukan itu hanyalah DaseinDasein berarti “Ada-di-sana.” Ada-di-sana untuk menunjukkan ciri khas kemewaktuan dan keterlemparan manusia, atau faktisitas (Faktizität), kenyataan bahwa manusia telah ada di dunia, dan pertanyaan tentang muasalnya yang tidak relevan. Dasein bisa mempertanyakan Ada karena memiliki hubungan dengan Adanya, yakni terbuka terhadap penyingkapan Ada.[4]

Heidegger juga menjelaskan keadaan pra-struktur pemahaman (verstehen) manusia. Dalam hal ini ia menjelaskan tentang adanya vorhabe, vorsicht, dan vorgriff. Vorhabe merupakan  sesuatu yang sudah dipunyai subjek sebelumnya. Vorsicht merupakan sesuatu yang sudah dilihat sebelumnya. Lalu voegriff yang merupakan sesuatu yang sudah dapat ditangkap sebelumnya. Ketiga hal tersebut saling berkelindan satu sama lain sehingga membentuk pra-struktur pemahaman dalam diri manusia.

Bahasa—bagi Heidegger—merupakan sesuatu yang signifikan dalam bangunan filsafatnya. Heidegger berpendapat, bahasalah yang membuat manusia menjadi manusia. Pertanyaan tentang hakikat manusia, pertama-tama seharusnya adalah pertanyaan tentang hakikat bahasa. Sebab bahasalah yang memberi kemungkinan kepada manusia menjadi manusia. Ia mencoba memberikan pengertian lain kepada bahasa dan tidak hanya berkutat pada pengertian bahasa sebagai alat komunikasi saja. Bahasa merupakan artikulasi eksistensial pemahaman. Menurut Poesporodjo, dengan kesimpulan bahwa berpikir adalah tanggapan, jawaban, dan bukan manipulasi ide, dan Heidegger telah terlibat secara serius dalam pembicaraan tentang bahasa. Bahasa bukan alat,[5] melainkan ia adalah sarana bagi pengungkapan Ada kepada manusia.[6] Bahasa adalah rumah Ada (das Haus des Seins), dan manusia bermukim di dalam bahasa.[7]

Bahasa kemudian juga bermakna ontologis. Antara keberadaan, kemunculan, dan bahasa, saling mengandaikan. Keberadaan menjadi mungkin ketika ada ketersingkapan. Dengan begitu, tidak akan ada keberadaan tanpa ketersingkapan, dan tidak ada ketersingkapan tanpa keberadaan; demikian pula tidak ada keberadaan tanpa bahasa, dan tidak ada bahasa tanpa keberadaan.[8] Bersama pikiran, bahasa adalah juga ciri keberadaan manusia. Dalam bahasa, Adamengejawantah. Oleh sebab itu, interpretasi merupakan kegiatan membantu terlaksananya peristiwa bahasa karena teks mempunyai fungsi hermeneutik sebagai tempat pengejawantahan Ada itu sendiri.[9] Heidegger kemudian membahas keutamaan dari saying yang memiliki hubungan dengan karakter eksistensial, keadaan menerima suatu ucapan (dengar), terbentuknya diskursus, adanya keterbukaan pada dunia, dan keterbukaan pada orang lain.

Hermeneutik Ontologis Life of Pi

Film yang bercerita tentang keterlemparan (Dasein) seseorang bernama Pi. Nama lengkapnya adalah Piscine Molitor Patel yang diberikan oleh sang Paman yang biasa dipanggil Mamaji. Mamaji sangat menyenangi olahraga renang dan sangat terkesan dengan sebuah kolam renang di Paris Perancis yaitu Piscine Molitor, sedangkan Patel adalah nama keluarga atau marga. Pi adalah anak kedua dan berbeda tiga tahun dengan kakaknya yang bernama Ravi. Mereka tinggal bersama orangtuanya di sebuah kota bernama Pondicherry di India, sebuah kota bagaikan separuh Prancis dan separuh India. Orangtuanya adalah pemilik kebun binatang di kota tersebut. Latar belakang cerita ini ketika India baru merdeka dari Inggris, bisa dilihat dari kondisi ekonomi India yang belum stabil sehingga keluarga Patel harus pindah ke Kanada menggunakan kapal kargo milik perusahaan Jepang.

Ada sebuah jalan cerita yang menarik ketika Pi mencoba mencari pengalaman religus sejak masih anak-anak. Pi yang sejak lahir sudah berada dalam lingkungan Hindu secara otomatis menjalankan ajaran Hindu. Di sinilah letak vorhabe yang dimiliki oleh Pi. Kemudian  rasa ingin tahunya cukup besar sehingga tertarik juga dengan ajaran Katolik. Tidak berhenti hanya di situ, dia juga mendalami ajaran Islam, sehingga Pi memiliki sebuah  vorsicht dalam pencarian spritualnya. Baginya semua agama adalah baik, yang merupakan sebuah vorgriff yang didapatkan Pi selama berpindah-pindah agama. Bagi penulis ini adalah sebuah pra-struktur pemahamaan (verstehen) yang mendalam. Penggambaran simbol agama yang digambarkan dengan tidak memprovokasi agama lain. Simbol Hindu ditampilkan dengan tidak makan daging. Simbol agama Katolik ditampilkan dengan Pastor dan air sucinya. Simbol agama Islam ditampilkan dengan sholatnya.

Pada bagian kedua cerita terdapat relasi antara Denken dan Sein. Keluarga Patel pergi ke Kanada menggunakan kapal kargo yang besar, sayangnya perjalanan dengan kapal di tengah lautan tidak mulus. Pada tengah malam cuaca buruk dan hujan cukup lebat. Semuanya pada tidur dan kebetulan Pi sedang bangun dan keluar menikmati hujan.. Pi sadar bahwa ada yang tidak beres dengan kapal tersebut dan benar kapal tersebut mulai tenggelam ditelan ombak. Pi berusaha membangunkan keluarganya tapi sayang usahanya sia-sia karena air semakin dalam dan napas yang terbatas. Alhasil hanya pi yang selamat.

Hanya Pi seorang yang selamat karena menumpang sekoci dan semua penumpang lainnya ikut tenggelam bersama kapal di lautan bebas. Tak disangka di dalam sekoci yang separuhnya tertutup kain tersebut terdapat juga hewan yang terdampar disana dan masih hidup yaitu zebra, orang utan, hyena dan harimau yang bernama Richard Parker. Pi merasa senang karena terhindar dari bencana namun juga merasa sedih karena keluarganya tidak bisa diselamatkan. Lebih sedih lagi sekarang Pi berada satu sekoci dengan binatang buas hyena dan harimau. Dalam konteks yang mengerikan dan juga dilematis itulah Pi mulai berpikir agar tetap bisa selamat tanpa harus membunuh hewan-hewan itu. Pada plot ini cara berpikir subjek, yaitu Pi tergambar dengan terang dan jelas.

Sudah merupakan sifat alami bila hewan merasa lapar dan untuk mempertahankan hidupnya maka akan memangsa hewan lainnya seperti dalam sistem rantai makanan. Hal yang demikian berlaku juga di atas sekoci. Orang utan memakan buah jeruk selanjutnya orang utan dimakan oleh hyena. Zebra pun ikut merasakan gigitan hyena. Pada akhirnya hyena juga menjadi makanan harimau. Sekarang hanya ada Pi dan harimau sebagai hewan terakhir yang bersifat karnivora dan buas.

Bagai jatuh tertimpa tangga pula, Pi tidak bisa tenang. Ia sudah hidup di atas sekoci sendirian ditengah laut ditambah lagi ada binatang buas di sampingnya. Mau tak mau Pi berpikir keras agar tidak dimangsa oleh harimau. Dia membuat sambungan dan rakitan dari papan-papan kayu hasil bongkaran sekoci dan memisahkan diri dari sekoci itu. Sekali-kali dia masuk ke dalam sekoci untuk mengambil perbekalan makanan atau sesuatu yang masih bisa digunakan. Hal yang unik adalah adanya saying dari subjek (Pi) kepada si Richard Parker (harimau).

Pi berusaha menaklukkan harimau itu dengan sedikit melakukan tindakan keras melalui tongkatnya dan aba-aba dengan pluitnya. Juga melalui pemberian makan hasil tangkapan ikan agar harimau menjadi jinak dan menuruti perintahnya. Setidaknya meniru menjadi seorang pawang harimau. Perlahan-lahan Pi berhasil menjinakkan harimau tersebut dan bisa dikatakan menjadi sahabat di kala sepi sendiri. Pi ternyata menerima keadaan yang ia hadapi, sambil mencari makna positif tejebaknya ia bersama sang harimau.

Sekoci akhirnya terdampar di sebuah pulau yang berpenghuni ribuan merkat, binatang sejenis luwak. Namun dibagian pulau itu ada semacam danau yang bersifat asam dan beracun bila malam hari yang dapat membuat binatang menjadi mati. Akhirnya Pi memutuskan untuk kembali di tengah lautan bersama sang harimau.

Pada akhirnya sekoci membawanya ke sebuah pantai di Mexico. Kondisi Pi sudah lemas dan lunglai sedangkan kondisi harimau Richard Parker masih sanggup untuk berjalan menuju pepohonan yang rimbun. Tidak ada kata perpisahan terhadap Pi dan harimau itupun semakin jauh meninggalkan Pi yang sedang tak berdaya. Pi berharap sahabatnya itu menoleh atau mengaum sebagai tanda perpisahan tapi sekali lagi hal itu tidak terjadi.


Catatan Akhir:

[1] Untuk lebih detail tentang intensionalitas, baca Aron Gurwitsch, Intentionality, Contitution, and Intentional Analysis: On the Intentionality of Consciousness, dalam, Fenomenology: The Phylosophy of Edmund Husserl and Its Interpretation, Doubleday & Company, Inc, New York, 1967, hlm. 118. Aron menjelaskan,: “the intentionality of counsciousness may be defined as a relation which all, or at least certain, acts bear to an object.”

[2] Lihat F. Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian: Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit, KPG, Jakarta, hlm. 29.

[3] Lihat Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru mengenai Interpretasi, terj. Masnur Hery & Damanhuri Muhammad, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm. 143.

[4] F.Budi Hardiman, Op Cit., hlm. 49

[5] DR. W. Poesporodjo, L.Ph., SS, Op Cit., hlm 89.

[6] F.Budi Hardiman, Op Cit., hlm 40.

[7] Ibid., hlm 40.

[8] Richard E. Palmer, Op Cit., hlm. 177

[9] DR. W. Poesporodjo, L.Ph., SS, Op Cit., hlm 92.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: