Herbert Marcuse: Masyarakat Industri

Herbert Marcuse: Masyarakat Industri

Herbert Marcuse dikenal sebagai salah seorang inspirator gerakan ‘kiri baru’ (the new left), doktrin Marcuse tentang sistem politik dan sistem sosial dinilai lebih radikal dari kaum komunis ortodoks. Para pengagumnya malah menjulukinya sebagai ‘sang nabi’: nabi yang menjadi inspirator revolusi mahasiswa tahun 1968. Marcuse yang dikenal juga sebagai perintis dari Mazhab Frankfurt juga melihat ciri perkembangan masyarakat industri saat ini. Menurutnya ada tiga ciri masyarakat industri atau teknologi modern.

Pertama, masyarakat berada di bawah kekuasaan prinsip teknologi. Suatu prinsip yang semua tekanannya dikerahkan untuk memperlancar, memperluas, dan memperbesar produksi. Kemajuan manusia disamakan dengan terciptanya perluasan teknologi. Kekuasaan teknologi sudah mencakup seluruh bidang kehidupan; tidak hanya melingkupi bidang ekonomi saja, melainkan juga bidang-bidang lain: politik, pendidikan, dan budaya.

Kedua, masyarakatnya menjad irasional secara keseluruhan, sebab terjadi kesatuan antara produktifitas dan destruktifitas. Kekuatan produksi tidak digunakan untuk perdamaian, melainkan untuk menciptakan potensi-potensi permusuhan dan kehancuran, misalnya, untuk persenjataan. Semua pihak setuju jika anggaran senjata dan pertahanan perlu ditingkatkan, padahal ini tidak masuk akal. Namun demi kelangsungan pertahanan, anggaran militer harus terus bertambah. modern menampakkan sifat “rasional dalam detail, tetapi irasional dalam keseluruhan.”

Ketiga, masyarakatnya berdimensi satu. Inilah ciri yang paling fundamental. Segala segi kehidupannya hanya diarahkan pada satu tujuan, yaitu meningkatkan dan melangsungkan satu sistem yang telah berjalan. Manusia tidak lagi memiliki dimensi-dimensi lain, bahkan dengan satu tujuan itu, dimensi-dimensi lain disingkirkan.

Sejarah telah mencatat bahwa manusia pada masyarakat industri modern memiliki kemungkinan yang objektif agar dapat merealisasikan pemuasan akan kebutuhan-kebutuhannya. Tetapi, yang terjadi sesungguhnya, manusia tetap saja terhalang karena adanya suasana represif. Peran dan peluang ilmu dan teknologi memang sangat besar. Ukuran rasionalitas masyarakat adalah rasionalitas teknologis. Manusia dan masyarakat masuk ke dalam perangkap, penguasaan, dan manipulasi teknologi. Teknologi mampu menggantikan tenaga manusia bukan saja dalam bidang industri, namun juga dalam seluruh mata rantai kehidupan. Asal manusia dan masyarakat dapat dikuasai, digunakan, diperalat, dimanipulasi, atau ditangani, berarti manusia dan masyarakat sudah terjerat dalam sistem yang mutakhir ini. Teknologi yang pada awalnya diciptakan sebagai alat emansipasi dari kekejaman alam, kini malah dipakai untuk menindas atau merepresi manusia. Karena itu, hal yang paling menonjol dalam masyarakat industri modern adalah ‘toleransi represif,’ yaitu suatu toleransi yang memberi kesan seakan menyajikan kebebasan yang luas padahal meksudnya tidak lain daripada menindas.

Kemanusiaan, kebebasan, otonomi, kehidupan sosial, tidak diberi kesempatan, semuanya sudah menjadi alat. Masyarakat demikian, menurut Marcuse, lebih suka memertahankan status-quo, baik bagi penganut sistem kapitalisme maupun para penganut sistem sosialisme. Masyarakat modern juga tidak menunjukkan adanya penghapusan kelas. Bedanya, rakyat banyak (termasuk kaum buruh) mendukung kelangsungan sistem tersebut dan sekaligus ikut dalam sistem yang sudah begitu mapan. Jika Marx mengeluh akibat pekerjaan yang berat dan membosankan, ditambah pula akibat upah kerja yang amat rendah dari kaum pemodal, maka Marcuse mengatakan kini kaum buruh tidak mengeluh lagi dengan kerja kerasnya karena pemuasan kebutuhan terpenuhi. Kaum buruh tidak lagi revolusioner. Mereka sudah menjadi para pembela sistem kerja itu sendiri.

***

Setidaknya ada lima karakter masyarakat satu dimensi seperti dijelaskan oleh Marcuse. Pertama, Administrasi Total. Dari sejumlah kemajuan hebat dan keberhasilan terbesar yang diraih sistem kapitalis yang bertumpu pada keunggulan teknologi adalah kemampuan penguasa kapitalis mengalihkan dominasi ke dalam administrasi total.[1] Administrasi total merupakan strategi pengaturan dan pengelolaan yang bertujuan mengharmoniskan pemusatan dan penyatuan kekuatan sosial, politik, ekonomi, militer, dan budaya ke dalam satu tangan. Sarana yang dimanfaatkan adalah menciptakan ‘musuh bersama’ nasional guna memaksa semua warga agar memerlukan yang tidak diperlukan dan mengorbankan yang harus dilindungi dan dilestarikan.[2]

Kedua, Bahasa Fungsional. Medium utama administrasi total adalah bahasa, mengingat subjek utama yang dihadapi, diatur, dan dikelola adalah manusia. Bahasa merupakan ungkapan kemampuan berpikir dan proses perwujudan potensi individu. Karena itu, hal utama yang perlu digarap dalam upaya penaklukan total dan tuntas adalah pembentukan wacana berpikir, cara berkomunikasi, ban berwicara. Rezim kapitalis ingin mengubah wacana prateknologi dan memberikan muatan baru yang lebih sesuai dengan realitas teknologis dengan menciptakan bahasa sendiri: bahasa fungsional.[3]

Ketiga. Penghapusan Sejarah. Dalam hidup menyejarah, nalar manusia mengambil dua sikap yang berbeda. Di satu pihak, ada kontinuitas gerak dialektis nalar dalam rangka mengenal, mengerti, memahami, dan mengolah fakta, data, dan peristiwa. Kontinuitas mengacu pada karya nalar sebagai kemampuan yang otonom dan transenden. Di pihak lain, terdapat diskontinuitas sejarah nalar berada dalam kesatuan dengan badan. Dalam kesatuan ini, nalar terikat dengan ruang dan waktu sehingga aktifitasnya tunduk pada hukum sebelum dan sesudah, di sana dan di sini, kini dan nanti. Berangkat dari pemakaian bahasa fungsional sebagai bahasa tunggal dalam masyarakat kapitalis, pernyataan Marcuse bahwa pemaksaan makna tunggal bahasa dalam semesta wacana merupakan keputusan dan tindakan politis, bukan sekadar persoalan dunia akademis, mendapat pembenarannya. Promosi dan aplikasi bahasa fungsional yang bersikap anti oposisi dan selalu alergi pada kekaburan dan perbedaan makna merupakan strategi penguasa untuk menguasai kesadaran dan menutup ruang perbedaan dalam waktu. Secara sosial, bahasa fungsional memuat kandungan ideologis, sehingga menjadi bahasa anti historis yang radikal, dan radikalitas demikian memuat dan mengalir dari rasionalitas operasional yang cenderung menafikan relasi masa lampau dan masa kini.[4]

Keempat, Kebutuhan Palsu. Kebutuhan palsu merupakan suatu keperluan yang dibebankan oleh aneka kepentingan sosial tertentu kepada semua individu dengan maksud menindas dan menggerogoti mereka.[5] Sekarang ini, terpampang jelas propaganda sistematis dan kontinu untuk semua kebutuhan palsu yang dijejalkan. Propaganda kebutuhan palsu dilakukan lewat aneka macam promosi, pameran dan iklan mengenai merek dagang, tempat wisata, pusat perbelanjaan, mode, apartemen, lokasi perumahan, ponsel, komputer, kendaraan bermotor, dan peralatan rumah tangga, hingga beragam jenis kursus.

Kelima, Imperium Citra. Dewasa ini, citra (image) menjelma menjadi mantra gaib yang menyusup ke segala sisi kehidupan individu dan masyarakat, bahkan memainkan peranan besar dalam dunia politik dan kekuasaan. Para pemimpin negara, kandidat yang bersaing guna memerebutkan posisi sebagai presiden atau perdana menteri dan jabatan di bawahnya menaruh perhatian yang besar terhadap citra. Mereka sungguh serius merawat citra dirinya sebagai public figure dan sering berprilaku bagaikan selebritas dari dunia entertainment. Lebih parah lagi, dominasi citra merasuk pula ke wilayah praksis kekuasaan dan menjadi bahan pertimbangan utama dalam keputusan politik dan kebijakan pemerintah yang tergambar dalam istilah populis dan tidak populis.

***

Dengan penjabaran di atas penulis menyimpulkan bahwa realitas sosial Herbert Marcuse telah memasuki tahap kontemporer. Dalam tahap kontemporer realitas sosial tidak lagi dipandang sebagai kenyataan abadi seperti tahap parenial, melainkan menghindari asumsi yang bersifat metafisik. Tahap kontemporer juga berbeda dengan tahap dinamis-historis yang memandang realitas sosial selalu berkembang secara historis, melainkan memadukan unsur teknologi, bahasa, dan unsur kebudayaan lainnya. Pandangan Marcuse tentang realitas sosial masyarakat insustri seperti sekarang ini terpengaruh mulai dari aspek teknologi yang menindas manusia sampai manipulasi bahasa. Oleh karena itu realitas sosial masyarakat bagi Herbert Marcuse tak bisa lepas dari cengkraman kapitalisme yang telah berkembang menjadi late capitalism.

Catatan Kaki:

*Artikel ini dibuat untuk tugas mata kuliah Filsafat Sosial yang diampu oleh Dr. Supatriningsih di Fakultas Filsafat UGM.

[1] Herbert Marcuse, One-Dimensional Man: Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society (Boston: Beacon, 1971) hal.48

[2] Velentinus Saeng, Herbert Marcuse: Perang Semesta Melawan Kapitalisme Global (Jakarta: Gramedia, 2012) hal. 243

[3]  Herbert Marcuse, One-Dimensional Man.,op. cit.., hal. 85

[4] Ibid., Herbert Marcuse, One-Dimensional Man., hal. 98

[5] Ibid., Herbert Marcuse, One-Dimensional Man., hal. 4-5

Daftar Pustaka:

Marcuse, Herbert. 1971. One-Dimensional Man: Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society. Boston: Beacon.

Saeng, Velentinus. 2012. Herbert Marcuse: Perang Semesta Melawan Kapitalisme Global Jakarta: Gramedia.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: