Francis Fukuyama dan Akhir dari Sejarah

Francis Fukuyama dan Akhir dari Sejarah

Pada suatu siang yang terik di daerah istemewa Jogja, saya pergi ke tempat kos teman saya. Sekadar untuk menghabiskan waktu, karena memang sudah tidak ada kelas lagi pada hari itu. Obrolan kecil pun terjadi sampai akhirnya saya tersentak oleh pertanyaan teman saya. Dia bertanya sebenarnya ajaran Hegel yang asli itu seperti apa? Bingung, saya juga tidak tahu bagaimana cara menjawabnya. Sejak timbul pertanyaan tersebut saya berusaha mencari buku yang mungkin menjadi anti-tesis dari pandangan marxisme. The End of Hitoris karya Francis Fukuyama akhirnya menjadi pilihan saya. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjawab pertanyaan itu.

Francis Fukuyama adalah seorang intelektual yang lahir di Chicago, pada 27 Oktober 1952 yang menurut Pierre Hassner memiliki keberanian membedah kerumitan politik dan filsafat demi mempertahankan tesis provokatif dan mengejutkan. Fukuyama juga memiliki keberanian untuk menyebarkan borjuisme. Fukuyama memilih bukti-bukti politik dari kenyataan pada abad ke-20 dan mengambil prespektif filsafat dari abad ke-19.

Dilain pihak Michel Doyle mengemukakan bukti yang sama dengan Fukuyama untuk membantah kebenaran optimisme abad ke-18 yang mencapai puncaknya pada etika Kant mengenai kemungkinan tercapainya perdamaian melalui bentuk pemerintahan republik dan digantikannya peperangan oleh perdagangan. Sementara Raymond Aron mengkritisi aliran pemikiran dan perspektif sejarah terhadap harapan yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi, yang otomatis akan memberikan pemecahan masalah ekonomi dan menjadikan perang sebagai sarana yang tidak lagi cocok untuk mengumpulkan kekayaan.

Pendekatan yang dilakukan Fukuyama juga tidak lazim. Pada satu sisi, ia meyimpulkan pengalaman abad ke-20 sebagai kemenangan demokrasi liberal dan masyarakat konsumtif. Di sisi lain, ia menggunakan filsafat Hegel sebagai landasan filsafatnya untuk menjabarkan uraiannya yang sebagian besar berbicara tentang Renaissance abad ke-18.

Fukuyama mengendus ada dua bahaya bagi perdamaian. Pertama, kemungkinan pecahnya perang yang paling tidak rasional dan paling merusak dalam sejarah. Bahaya yang kedua adalah meningkatnya ketakutan suatu negara terhadap serangan nuklir dari negara yang mengembangkan senjata nuklir. Sehingga pengunaan nuklir oleh negara lain meningkat, lalu menimbulkan kelonggaran peraturan penggunaan senjata nuklir di wilayah-wilayah kritis seperti di Eropa Tengah. Dan menurut Fukuyama ada faktor yang dapat meningkatkan perdamaian juga, yaitu dengan pemerintahan republik, persamaan demokrasi, kekuatan dagang, kerja mengantikan perang, dan penaklukan alam sebagai ganti dari penaklukan manusia.

Penyataan Fukuyama dapat dimaknai secara kabur karena bisa menekankan mental borjuis, demokrasi, kemakmuran, atau rasionalitas birokrasi sebagai domensi pokoknya. Seperti kata Arrigo Levi, walaupun semua tantangan terhadap ideologis Barat telah gagal, dunia komunis mungkin tidak berhasil menyampaikan kebebasan demokrasi Barat atau kemakmuran kapitalisme walaupun mereka mengakui ingin melakukannya (Corrie della Serra: 1988).

Fukuyama mengkritisi Karl Marx tentang pandangannya terhadap sejarah. Karl Marx menilai perkembangan sejarah dipengaruhi oleh berbagai kekuatan materi. Dan perkembangan itu hanya akan berhenti setelah tercapainya utopia komunis yang dapat menyelesaikan semua kontradiksi sebelumnya, kata Fukuyama. Dan yang membuat Fukuyama resah adalah ketika hanya sedikit orang yang akrab dengan karya-karya Hegel melalui studi langsung tanpa melalui saringan kacamata Marxisme yang sudah diputarbalikkan. Arti idealisme bagi Hegel kontradiksi yang mendorong sejarah mula-mula muncul dalam kesadaran manusia, adalah pada tahap ide.

Pandangan Hegel mengenai hubungan antara ide dan dunia materi sangatlah rumit. Perbedaan kedua dunia itu sangatlah jelas, di mana materi tidak mampu mempengaruhi ide. Hegel tidak percaya semua perilaku yang ada di dunia materi. Semua sejarah manusia berakal dari kesadaran sebelumnya, yaitu ide. Hal tesebut sama dengan pernyataan John Maynard Keynes, bahwa pandangan kaum bisnis biasanya bersumber dari kesadaran para ahli yang sudah tidak aktif dan penulis akademik dari generasi sebelumnya. Kesadaran dapat berbentuk melalui agama atau kebudayaan sederhana atau kebiasaan moral. Kesadaran adalah sebab dan bukanlah suatu akibat, dan dapat berkembang di dunia materi.

Menurut Fukuyama terdapat warisan buruk dari Marxisme dalam memandang filsafat Hegel adalah kecenderungan kita untuk mundur ke penjelasan fenomena materialis atau kemaslahatan politik atau sejarah dan keengganan kita untuk percaya pada ide otonom itu. Fukuyama menentang pandangan Marx yang menilai peningkatan produktivitas pekerja adalah dengan menaikan upahnya. Fukuyama menggunakan pendapat dari Max Webber dalam bukunya yang berjudul The Protestant Ethnic and Spirit of Capitalism yang membandinkang perbedaan prestasi ekonomi masyarakat Protestan dan Katolik Eropa dan Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa orang Protestan makan enak, sedangkan orang Katolik tidur nyeyak. Webber menilai bahwa manusia adalah makhluk pengejar laba, bagi mereka yang ingin menaikkan produktivitas maka harus meningkatkan biaya kerja. Namun kenyataannya, pada banyak petani tradisional justru sebaliknya. Peningkatan ongkos kerja justru mengakibatkan menurunya produktivitas. Tema pokok karya Webber membuktikan perbedaan pemikiran dengan Marx, bahwa produksi materi sama sekali bukan merupakan “dasar”, melainkan “superstruktur” yang berakar pada agama dan kebudayaan.

Mazhab materialisme deterministik Wall Street Journal mengemukakan sukses ekonomi Asia dalam dasawarsa terakhir ini sebagai bukti keunggulan pasar bebas, dengan implikasi yang serupa bahwa semua negara dapat sukses bila mereka membiarkan rakyat mereka mengejar kepentingan materi mereka sendiri dengan bebas. Kegagalan untuk memahami bahwa perilaku ekonomi berakar pada alam kesadaran dan budaya menyebabkan timbulnya kekeliruan umum. Yaitu timbulnya anggapan bahwa sebab-sebab dari suatu fenomena itu bersifat materi, padahal dasar fenomena itu sesunggunhnya bersifat ide, kata Fukuyama. Bagi Kojeve untuk memahami proses mendasar sejarah kita perlu memahami perkembangan alam kesadaran satu ide. Sebab alam kesadaran akan membentuk dunia materi menurut citranya sendiri.

Bagi seorang idealis murni masyarakat manusia dapat dibangun menurut serangkaian prinsip apa saja tanpa memandang hubungan dengan dunia materi. Dan kenyataannya terbukti mampu menahan penderitaan materi yang paling berat dengan mempertahankan ide yang hidup dalam alam cita-cita, baik berupa keyakinan akan sucinya seekor sapi atau kebenaran bersifat Tritunggal. Namun, meskipun persepsi manusia mengenai dunia materi dibentuk oleh kesadaran sejarahnya, dunia materi pun sebaliknya dapat memengaruhi kemampuan bertahan dalam keadaan kesadaran tertentu. Hal tersebut bisa dilihat dengan munculnya negara-negara maju berekonomi liberal dengan ragam budaya konsumtifnya.

Sebagai penutup Fukuyama menilai kondisi kesadaran itu tampaknya akan mantap menumbuhkan liberalisme seperti yang diharapkan pada akhir sejarah jika keadaan itu didukung oleh melimpahnya ekonomi pasar bebas. Dan Fukuyama menyimpulkan isi keadaan negara homogen universal itu sebagai demokrasi liberal dalam bidang politik bersama-sama dengan kemudahan kepemilikan perekam kaset video dan stereo set dalam bidang ekonomi. Serta pada akhirnya tergantung diri kita masing-masing untuk memahami filsafat Hegel, dari kacamata Marxisme-kah atau Liberalisme?

Bahan bacaan:

• Fukuyama, Francis. 2015. The End of History. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: