Cinta(?)

Cinta(?)

Pergantian tahun dari 2015 ke tahun 2016, banyak kisah yang menarik di setiap harinya. Dari kebahagian ada di lingkungan yang baru sampai perjalanan percintaan yang tragis, semua terangkum rapih dalam arsip ingatan. Gemuruh suara mercon dan lengkingan suara terompet menyadarkanku akan sudah lama rasanya sendiri. Ya, cukup lama seumur hidupku saat ini, 18 tahun.

Berbicara tentang cinta selalu membuatku menjadi seseorang yang irasional. Mengapa? Entah mungkin kerja hormon endorphin dalam tubuh sedang bergejolak. Di saat jatuh cinta ingin rasanya bertatap muka, saling bertanya kabar, berdialog tentang hal-hal yang tidak penting namun sayang pada realitanya tidak seperti itu. Malam hari menjadi momok yang menakutkan dan rasio tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Mengganggu konsentrasi ketika sedang membaca, dan tiba-tiba menjadi gelisah gundah gulana rasanya sudah khatam dengan itu semua.

Nasihat-nasihat seperti hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Semuanya mentah. Tapi ini bukan tulisan sedih-sedih nggak jelas ini tulisan yang serius, perlu diingat saya mahasiswa filsafat meskipun saya sebenarnya humoris.

Sekitar puluhan tahun yang lalu, Jacques Lacan, seorang pemikir asal Prancis, pernah menulis, bahwa manusia adalah mahluk yang berlubang. Berlubang seperti apa? Tentunya bukan berlubang secara fisik, tetapi ia memiliki lubang dalam jiwanya yang terus menuntut untuk diisi. Isinya bisa macam-macam, mulai diisi dengan barang-barang mewah, teman, keluarga, cinta, dan sebagainya. Mungkin hati saya telah berlubang, seperti kata Lacan. Ya, karena cinta.

Pada hemat saya, Lacan betul. Saya sendiri merasakannya. Bagi saya, lubang dalam jiwa itu adalah sumber dari segala hasrat manusia. Artinya, keinginan dan dorongan hidup manusia berakar pada upaya manusia untuk mengisi lubang yang ada di dalam jiwanya. Saya menyebutnya sebagai “Ruang rindu”. Menarik bukan? Anggap saja menarik.

Kata Buddha, lubang ini bisa dilenyapkan, dan manusia lalu bisa sampai pada kedamaian sempurna. Ajarannya terlihat baik. Namun, menurut saya, justru hasrat ini yang membuat kita menjadi manusia, yang membuat kita ini hidup. Kalau dihilangkan, lalu kita ini apa namanya? Tidak tahu. Yang pasti bukan manusia. Robot? Mayat hidup? Mungkin nanti saya tanya kepada Aldo Muhes tentang hal ini, atau kepada Satria yang paham betul arti hidup adalah penderitaan. Namun, cinta tak berhenti pada hasrat. Sejatinya cinta juga butuh akal budi yang luhur.

Cinta juga harus pake akal. Jangan mencintai secara gila-gilaan, sehingga ditipu pun tidak sadar. Orang yang mencintai juga harus tahu batas, kapan dia bisa memanjakan kekasihnya, memarahinya, atau meninggalkannya. Cinta tidak boleh buta. Duh sudah abad ke-21, tetap saja masih ada orang yang mencintai secara buta, sehingga semuanya dikorbankan, termasuk uang, keluarga, dan sebagainya. Meskipun saya belum pernah berpacaran sih. Itu mungkin juga menjadi salah satu alasan mengapa Jacques Derrida dalam bukunya Question de la Philosophie mengatakan “pertanyaan utama dalam filsafat adalah: apa itu cinta? Bagaimana bisa aku bilang ‘aku cinta padamu’, jika aku tahu cinta itu sendiri adalah engkau…Kata ‘cinta’ baik kata kerja ataupun benda, akan musnah di hadapanmu”. Itulah yang mungkin menyebabkan kita seolah menjadi buta karena cinta. Jangan jadi seperti itu ya.

Terasa tidak lengkap jika tidak membahas esensi. Esensi terdalam cinta, menurut saya, adalah paradoks. Paradoks itu artinya dua hal yang bertentangan, namun bisa menyatu, dan menciptakan sesuatu. Misalnya, seperti atom yang positif dan negatif secara bersamaan. Intinya, dua hal yang bertentangan justru bisa menyatu secara harmonis. Seperti Yin dan Yang dalam filsafat Cina.

Cinta pun juga paradoks. Di dalamnya, orang bisa merasakan benci dan sayang pada waktu yang sama. Cinta juga bisa bertahan, jika orang tidak terlalu mengikat pasangannya. Justru dengan melepas orang yang disayangi, maka cinta akan bertumbuh. Sebaliknya, dengan diikat, orang yang dicintai justru akan pergi. Dan mengambil ucapan dari sahabat saya Aldo Muhes “ketika kamu mencintai sebuah ‘bunga’ apa yang akan kamu lakukan pada ‘bunga’ tersebut? Mencabutnya dari lingkungan dia hidup lalu menanamnya lagi di dalam pot dan membiarkannya tumbuh tidak sebagaimana mestinya? atau kamu malah membiarkan ‘bunga’ itu tumbuh semakin indah berkembang sebagaimana mestinya di lingkungan dia hidup?” Saya pribadi memilih pilihan ke dua. Ya, meskipun sakit.

Itulah cinta menurut saya. Merasa bahagia dan gelisah di saat yang bersamaan. Dan, suara mercon lagi-lagi muncul di telinga. Jika kamu yang aku sayangi juga mendengarkannya juga. Itu bukan suara mercon, Kekasih, itu jutaan kata yang tak terucap dalam kesepianku.

Note: ini merupakan catatan pribadi saya pada, 01 Januari 2016. Pernah alay juga saya 🙂

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: