Can ‘Mahasiswa Filsafat’ Speak?

Can ‘Mahasiswa Filsafat’ Speak?

Tulisan ini bukanlah suatu usaha menandingi esai bernas Gayatri Spivak “Can Subaltern Speak?”, tulisan ini hanya sebatas pemantik perdebatan yang akhir-akhir ini tak pernah lagi saya dapatkan di ruang kelas. Jika Spivak dalam esainya mencoba untuk membela kaum subaltern agar bisa menyuarakan pendapatnya, sedangkan saya berusaha untuk membuat mahasiswa filsafat berani beragumen dengan dosen—se-konservatif apa pun dosennya. Lalu, jika Spivak berangkat dari keresahan kaum perempuan di India yang tak mampu menyuarakan hak-haknya, “Tak ada orang tertindas yang bisa bicara. Apalagi ia perempuan, ia akan begitu saja dilupakan,” (Harian Kompas, 12 Maret 2006). Sedangkan saya di sini berangkat dari keresahan di ruang kelas yang minim dialektika.

Ruang kampus, idealnya merupakan tempat berkembangnya segala bentuk pengetahuan. Diskusi-diskusi kecil di sudut kampus, di dalam ruang kuliah, bahkan di kantin menjadi tempat sebuah gagasan diadu dan terus dikembangkan. Iklim yang penuh khasanah intelektual tersebut menjadi fenomena yang tak terlepas dari semua unsur yang hidup dan beraktivitas di dalam kampus. Di sana ada mahasiswa, dosen, birokrasi kampus dan beberapa orang yang menggantungkan hidupnya sebagai pegawai atau pekerja. Dalam perspektif konstruktivisme, proses transaksi ide-ide perubahan dan gagasan yang revolusioner dari mahasiswa terbentuk dari interaksinya dengan semua elemen yang ada di dalam kampus.

Mahasiswa, sebagai salah satu unsur terpenting dalam kehidupan kampus, tentu memiliki hak untuk terlibat dalam pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di kampus. Hak yang dimaksud bukan hanya dimaknai bahwa mahasiswa berhak mendapatkan pendidikan yang layak dengan ruangan belajar yang nyaman, WC yang tidak tersumbat, atau perpustakaan yang penuh dengan referensi yang menyegarkan. Tapi, mahasiswa juga berhak untuk terlibat dalam merumuskan kebijakan yang mendukung dalam peningkatan kualitas intelektual, serta terlibat dalam mentransformasikan dan memperbarui sistem pendidikan yang diterapkan agar sesuai dengan konteks zaman. Singkatnya, mahasiswa sebagai bagian dari kampus menjadi pelaku aktif dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan yang mencerahkan dan mencerdaskan.

Tujuan pencerahan sebenarnya dapat kita mulai dari dialektika pengetahuan di ruang kelas. Tapi lihatlah kenyataannya saat ini, keresahan karena minim sekali diskursus pengetahuan ditelanjangi di ruang kelas. Ruang kelas yang idealnya penuh hiruk pikuk perdebatan hasil refleksi selepas membaca buku-buku dan diskusi sana-sini dengan kawan malah sepi dan monoton. Saya menjadi bertanya-tanya apa yang salah di dalam ruang ruang kelas kami? Mahasiswa ataukah dosen yang menjadi penyebab?

Auto-kritik Bagi Mahasiswa

Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat datang kawan-kawan mahasiswa baru di kampus impianmu, Universitas Gadjah Mada yang biasa-biasa saja ini. Di sinilah tempat yang akan menemanimu dalam waktu yang “tak boleh lama-lama”. Jika dulu kuliah bisa dihabiskan cukup lama, kini waktu kuliah (dipaksa) singkat saja. Ada yang menjalaninya hanya 3 tahun dan ada yang 4 tahun. Malah ada yang lulus dengan masa kuliah 3 setengah tahun. Ya… memang hampir mirip dengan perlombaan, kuliah membuatmu memandang kawan seperti lawan. Mula-mula pada soal penampilan dan lama kelamaan dalam hal prestasi. Walhasil mahasiswa terpaku dengan PPT dan ocehan dosen. Dosen laksana resi yang perkataannya tak boleh dibantah dan dikritisi, jika kamu nekat bisa-bisa kamu ditandai pembangkang atau langsung diberi nilai E. Memang aneh kampus zaman sekarang, pihak kampus suka sekali memamerkan mahasiswa yang jadi juara. Juara apa saja: menulis, meneliti, dan terlebih juara PIMNAS PKM. Seakan kampus serupa dengan medan laga di mana tiap anak muda harus siap bertarung: kalah atau menang. Tapi apa pun yang terjadi percayalah sejatinya kampus adalah tempatmu untuk menguji mimpi dan kuatnya tekad mengasah argumentasi.

Jangan percaya jadi sarjana dengan IPK yang tinggi itu jadi tujuan utamanya. Saya berani bertaruh tak ada yang istimewa dari acara wisuda—walaupun saya belum pernah diwisuda. Berjejer rapi lalu digeser toga kemudian foto bersama keluarga. Sungguh itu adegan yang menjemukan dan saya rasa biasa-biasa saja. Sekali lagi saya tekannkan, jangan meyakini bahwa IP (indeks prestasi) tinggi itu segalanya. Kampus beda dengan SD dimana yang bernilai tinggi selalu dapat pujian. Sudah banyak kepercayaan kalau IP tinggi tak menjamin segalanya. IP itu hanya perkakas kuliah yang diperebutkan dengan tenaga seadanya saja. Jangan terlampau berburu, sama halnya juga jangan terlalu meremehkan. Ringkasnya, kuliah tak hanya berpusat pada apa yang ada di bangku dan apa yang dikatakan oleh dosenmu, apalagi dosen yang buku rujukkannya itu-itu saja!

Ada baiknya kegiatan kampusmu diisi dengan latihan sana-sini untuk melawan apa yang memang sepatutnya kita lawan. Memusuhi korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, membela mereka yang ditindas, dan berani berdebat di ruang kelas dengan akal agar pengetahuanmu diuji dan dikritisi. Di ruang kelas (seharusnya) kamu dilatih berdebat, berargumen dan bersikap kritis. Sebab tak ada satu mata kuliahpun yang secara spesifik mengajarkan bagaimana memiliki kemampuan itu. Kemampuan itu semua bisa didapatkan jika kita berani memanfaatkan ruang kelas sebagaimana idealnya. Di satu sisi untuk mendapatkan pengalaman intelektual mengenai itu, maka jangan ragu-ragu untuk masuk ke dalamnya, menelanjangi setiap ide yang diajarkan dan kita lihat di dunia nyata. Jangan ragu apa lagi malu-malu karena disanalah kamu akan tersesat di jalan yang benar. Walau kamu tak dijanjikan IP tinggi atau menang lomba, tapi kamu memiliki pengalaman yang lebih berharga ketimbang jadi juara.

Kini lihatlah langit kampus kusammu yang akan jadi saksi pertumbuhan keyakinanmu. Jejak jejak muda seperti apa yang hendak kamu toreh. Tiap jejak itu akan jadi butiran keyakinan yang kelak akan diam-diam membentukmu. Jika sikap berani yang kamu tanam niscaya kamu akan berkembang tanpa rasa takut. Kalau sikap empati yang kamu semai kelak kamu akan jadi manusia yang peka dan mudah tersentuh. Oleh penderitaan, terhadap ketidak-adilan dan atas semua bentuk kebohongan. Maka jadilah mahasiswa yang tak hanya berharap meraih gelar sarjana. Juga jadilah mahasiswa yang tak berambisi menggapai nilai tinggi saja. Ingat-ingatlah bahwa tiap anak muda bisa menoreh sejarah berharga untuk diwariskan pada generasi berikutnya: Tan Malaka memberi ilham tentang kemerdekaan 100% tanpa kompromi, Soekarno meneguhkan hutang budi bangsa pada kaum marhaen serta Semaoen meneguhkan hikayat kaum terpelajar yang menolak berhamba pada kaum feodal. Mereka diilhami bukan hanya dengan membaca buku kuliah, tapi petualangan dan perjumpaan dengan masalah, berdebat sana-sini, cercaan, dan makian. Lalu bagaimanakah peran dosen yang ideal?

Dosen sebagai Pemantik Diskursus

Harus diakui dosen sebagai pemegang otoritas tertinggi di ruang kelas memiliki peran yang sentral. Dosen dituntut untuk mampu menjaga ruang kelas untuk tetap produktif akan wacana perkembangan pengetahuan yang segar. Dalam ruang kelas kehadiran sebuah otoritas kasat mata—dosen—sangatlah diperlukan. Kelas yang diisi anak-anak muda bersemangat cum haus akan ilmu pengetahuan membutuhkan seorang maha-dosen yang disegani agar kelas tidak kacau balau, sebab jika ruang kelas kacau balau yang dirugikan adalah mahasiswa itu sendiri. Dosen bagaikan sebuah oase haruslah mampu memuaskan dahaga para mahasiswanya. Doesen juga berusaha untuk membangun sebuah tatanan kelas yang demokratis serta membantu mahasiswa yang kesulitan secara langsung. Untuk membuat tatanan kelas yang demokratis ada baiknya maha-dosen menerapkan teori komunikasi yang dicetuskan oleh Habermas.

Habermas memulai asumsi teori komunikasinya dengan anggapan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia tentunya mampu membangun wacana rasional yang “dialogis” dan bukan “monologis” (Franz Magnis, 2000: 225). Manusia selalu berbahasa, dan berbahasa merupakan sebuah bentuk komunikatif, bahkan walau hanya bebahasa di dalam pikiran. Dalam hal ini dosen selaku pemegang otoritas tertinggi haruslah mampu menghidupkan suasana yang mengedepankan hubungan dialogis, baik antar mahasiswa-dosen maupun mahasiswa dengan mahasiswa. Tentunya dosen juga harus memberi pantikan-pantikan untuk memperbesar daya keingintahuan mahasiswa dalam menggali pengetahuan. Jangan ada lagi dosen yang tidak memberikan kesempatan mahasiswa untuk bertanya dan berpendapat. Jika ada mahasiswa yang bertanya, berdebat, dan mengkritisi pernyataan haruslah dijawab dengan argumen yang testable, bukan berdasarkan opini atau dogma agama belaka. Karena menurut Habermas argumen yang non-kognitivisme etis hanyalah mengutarakan pernyataan perasaan semata, maka dari itu pola berpikir non-kognitivistik tidaklah masuk akal secara rasional (Franz Magnis, 2000: 227).

Habermas juga mengajukan tiga peraturan agar diskursus berjalan secara dialogis:
1. “Setiap subjek yang bisa bicara dan bertindak boleh ikut dalam diskursus-diskusus.
2. (A) Setiap peserta boleh mempersoalkan setiap pernyataan. (B) Setiap peserta boleh memasukkan setiap pernyataan ke dalam diskursus. (C) Setiap peserta boleh mengungkapkan sikap-sikap, keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhannya.
3. Tidak boleh ada seorang pembicara dihalangi dengan paksaan baik dalam, maupun luar diskusrsus untuk melaksanakan hak-haknya yang dirumuskan sub nomor 1 dan 2” (Habermas, dalam Franz Magnis, 2000: 229).

Jika dosen masih saja membatasi mahasiwanya dalam berdebat, berargumen, dan menelanjangi setiap pernyataan yang ia buat di ruang kelas, sama saja dosen tersebut telah bersikap hypocrite—meminjam istilah Komang. Sebab di mana lagi jika bukan di ruang kelas yang mana di ruang tersebut terdapat intelektual (dosen dan mahasiswa) yang mempunyai tanggung jawab keilmuan. Ruang kelas dapat menggagas isu-isu dan permasalahan politik atau memperdebatkan problem parenial filsafati. Intelektual dapat berpartisipasi untuk ‘menjaga’ diskursus-diskursus kritis agar tercipta demokrasi yang partisipatoris, melalui sumbangan-sumbangan teoretik dan praktik. Ruang kelas yang ideal, seharusnya tidak resisten dengan dialog-dialog multikultural, dan tidak terbatas pada “dogma” satu tokoh tertentu saja atau hal-hal yang bersifat asumsi saja. Dan pada akhirnya kompetensi dosenlah yang harus diperbaki, jika tak mau berubah tentu saja harus rela didepak!

Kampus kini berubah orientasi menjadi lembaga funding, dengan serta merta mahasiswa menjadi subjek konsumen. Universitas yang menerapkan pengelolaan dengan model bisnis, mengontrak pengajar sebagai buruh, sehingga mahasiswa yang posisinya adalah membayar untuk mendapatkan jasa pendidikan tinggi diperlakukan sebagai konsumen. Di sisi lain, pengajar dengan konstruksi ‘pemberi jasa’ di corporate university diharapkan sebagai academic entrepreneur yang berorientasi agar sebanyak mungkin menghasilkan uang dan prestise, ketimbang pengajaran yang bernas dan riset yang bermanfaat untuk publik.

Pihak kampus juga bertanggung jawab atas menurunnya kompetensi dosen. sebagai pihak yang paling berwenang untuk menentukan kebijakan mau ke arah mana Fakultas Filsafat UGM bermuara. Seperti yang kita ketahui dosen-dosen kita (yang kebanyakan sudah tua) dibuat bekerja paruh waktu (fleksibel)—mengampu MPK misalnya—, dikarenakan sistem kerja tersebutlah yang lebih efisien dari segi anggaran. Pekerjaan akademis kemudian tidak lagi menjadi pekerjaan dengan komitmen penuh waktu dan jenjang karir yang jelas. Hal ini membawa implikasi lanjutan, salah satunya adalah solidaritas di antara dosen menjadi lemah. Lebih jauh, relasi kerja yang fleksibel ini juga dapat menghasilkan interaksi di antara dosen yang tidak lagi solid yang dan mempraktikkan hubungan yang produktif demi kepentingan publik. Para dosen malah akan terjebak dalam budaya kompetisi pribadi yang seragam. Interaksi yang renggang ini juga membuat ruang-ruang dialog kritis menjadi kosong. Pun dalam aktivitas mengajar, dosen tidak lagi tampil sebagai seorang intelektual, tapi seorang ustad yang menggunakan berbagai ayat atau dogma tertentu untuk mendisiplinkan sebanyak mungkin mahasiswa.

Akhirul Kalam

Dalam perdebatan siapa yang seharusnya berbenah masing-masing pihak haruslah bersikap terbuka dan mengakui kesalahan masing-masing sembari memperbaiki secara total apa saja yang kurang. Ruang kelas tidak sepatutnya menakutkan bagi para mahasiswa yang ingin bermain dengan liar atas ide, argumen, dan nalar kritis mereka. Dosen sebagai oase dan pemantik haruslah aktif berdialog, menggali tiap potensi mahasiswa dan membimbingnya menuju ke pencerahan intelektual. Dosen wajib menngkatkan kompetensinya dan berani berpikir menggunakan gagasannya sendiri. Tujuan akhirnya adalah membuat mahasiswa-mahasiwa filsafat sebagai pihak yang tidak bisa berbicara menyuarakan dirinya secara berani dan tentu saja kritis! Akhirul kalam pertanyaan “Can ‘Mahasiswa Filsafat’ Speak?” bisa dijawab dengan lantang, “Yes! We are should speak and the lecturers must listened us!”.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: