Bahasa Indonesia itu Egaliter bukan Totaliter

Bahasa Indonesia itu Egaliter bukan Totaliter

Saya percaya bahasa adalah “proyek bersama” sebuah bangsa. Sumpah pemuda tahun 1928 mengilhami saya akan hal itu.[1] Saat itu sumpah pemuda masih ditulis menggunakan bahasa Belanda, tetapi salah satu tujuannya jelas mengupayakan bahasa Indonesia sebagai lingua franca rakyat Indonesia kelak.[2] Bahasa Indonesia sebagai proyek bersama juga demikian, ia seyogianya bersifat dinamis mengikuti perkembangan zaman dan kebudayaan rakyat Indonesia. Sebagai proyek bersama bahasa Indonesia membutuhkan karakter kebudayan yang kuat dalam bersaing dengan bahasa lainnya.

Budi Darma mengatakan bahwa bangsa yang punya karakter atau kepribadian kuat ialah bangsa yang memiliki akar bahasa yang kuat pula. Ia melihat kebudayaan di dalam bahasa ibarat aliran air, ia mengalir dari atas ke bawah.[3] Seperti itu pula bahasa yang punya karakter kebudayaan yang kuat, ia mengalir mendeterminasi bahasa-bahasa yang statis dan tidak berkembang. Oleh karena itu bahasa senantiasa diandaikan jadi ajang pertarungan guna membuktikan bangsa siapa yang paling adidaya di ranah kebudayaan. Tetapi, sebaiknya kita harus berhati-hati pada perandaian ini.

Orang-orang yang terperangkap dalam metafora ‘perang bahasa’, biasanya terjebak pada perdebatan perihal kosakata dan berujung dengan sentimen anti-nasionalisme. Bahasa Indonesia dianggap kalah karena semakin banyak orang yang menggunakan kata-kata bahasa Inggris dalam ujarannya dengan mencampurkannya dengan kata-kata bahasa Indonesia—istilah ilmiahnya ‘campur kode’ atau akrab dengan istilah ‘bahasa Jaksel’.[4] Fenomena ini sebenarnya masih menjadi perdebatan yang pelik. Beberapa ilmuwan menolak dan sebagian lainnya tidak mempermasalahkannya.[5]

Bahasa sebagai proyek bersama tidak mungkin berkembang dengan sendirinya. Bahasa tidak pernah lepas dari tradisi kekuatan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, dan ilmu. Bahasa Indonesia belum memiliki akar tradisi sekokoh itu. Oleh karena itu, perlu adanya pemicu kreativitas dalam tubuh bahasa Indonesia itu sendiri. Sebab, perkara bahasa tidak melulu pada perkara teknis, namun lebih luas lagi merambah ke dunia tradisi, ilmu, budaya, politik, kepercayaan, teknologi, ekonomi, psikologis, rasa, dsb.

Sialnya, kita masih cenderung terpaku padahal operasional dan terkesan abai dalam menyikapi hal yang lebih esensial. Para ahli bahasa kita lebih sering menjadi ‘polisi bahasa’ yang berusaha menertibkan kesalahan-kesalahan teknis dalam berbahasa. Padahal kepraktisan dalam berbahasa selalu bergandengan tangan dengan keindahan. Artinya segala hal yang teknis dan praktis tidak terlalu baik jika tidak dibarengi dengan keindahan ketika digunakan. Perlu diingat pula bahwa lingua franca selalu bergerak menuntut kepraktisan dan keindahan dari zaman ke zaman.

Untuk itulah kita perlu menengok kembali nilai esensial yang terkandung di dalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia punya keunggulan dibanding bahasa-bahasa lain karena sifat egaliter dan demokratis. Berbeda sekali dengan bahasa Jawa yang hierarkis. Hal ini patut kita syukuri, sebab tidak banyak bahasa yang bersifat egaliter di dunia, bahkan bahasa Jepang dan Prancis pun masih memiliki pengkastaan dalam berbahasa. Sifat egaliter ini adalah keuntungan, sebab bahasa Indonesia dapat menyerap pelbagai bahasa di dunia dengan mudah. Remy Sylado dalam bukunya yang berjudul 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing memberikan contoh bahwa kata banyak kata asing yang diserap ke Bahasa Indonesia:

“Proklamasi kita sebagai bangsa merdeka yang dibuat 17 Agustus 1945 pun mengandung buktipenyabetan sejumlah kata bahasa asing: Sansekerta, Campa, Italia, Belanda, Arab, Latin, Yunani. Bahkan  termasuk nama ‘Indonesia’ pun diberikan oleh orang  Inggris (James Logan). Lantas, tahun 1945, dalam teks asli tulisan tangan Bung Karno, adalah ’05, yakni tahun Jepang  (2605).”[6]  

“Bahasa menunjukkan Bangsa” begitulah kira-kira bagaimana bahasa turut serta membentuk kepribadian nasional bangsa Indonesia. Pramoedya menunjukkan bagaimana sifat akar lingua franca kita. Sifat bahasa ‘melayu pasar’, atau Pram menyebutnya ‘basa pra-Indonesia’, ialah sifat selalu memafkan penggunanya yang miskin pembendaharaan kata. Ia juga menganggap ‘basa pra-Indonesia’ memiliki daya hisap dan daya khayal (sifat kreatif) yang mau selalu menerima kata-kata baru dari mana pun asalnya. Sifat ini mirip dengan bahasa Esperanto, namun bahasa Esperanto melakukan seleksi bahasa secara terpimpin, sedangkan ‘basa pra-Indonesia’ tidak secara terpimpin, bahkan secara liberal.[7]

Bangunan ‘basa pra-Indonesia’ tidaklah bersifat feodal, yakni pengkastaan, penghormatan wajib dan formalisme. Ia tidak membeda-bedakan seseorang berdasarkan asal kelahirannya, entah sebagai laki-laki atau perempuan, bangsawan atau rakyat jelata. Sebaliknya, ‘basa pra-Indonesia’ digunakan sebebas-bebasnya untuk tujuan persaudaraan dan persatuan yang kokoh nan luas. Nilai esensial inilah yang seharusnya kita perhitungkan dalam mengembangkan bahasa Indonesia ke depannya.

Kebutuhan akan bahasa yang sama memang tidak perlu distandarisasi di tingkat pusat dan pemaksaan penggunaan di tingkat daerah. Bahasa Indonesia bukan amunisi tentara, tapi bahasa Indonesia dapat membebaskan pikiran penggunanya. Seperti awal mula lahirnya bahasa Indonesia, ia tumbuh dari percakapan terbuka antar warga bangsa; ia selayaknya pulang asal sebagai alat pembebas milik kaum mardika!

Catatan Akhir:

[1] Lih., “Yang Menjadikan Bahasa Indonesia” dalam Majalah Media Kerjabudaya, Edisi 11 tahun 2003, hal. 14-18.

[2] Lih., Pramoedya Ananta Toer, “Basa Indonesia Sebagai Basa Revolusi Indonesia” dalam Majalah Media Kerjabudaya Edisi 11 tahun 2003, hal.30-33. Tulisan ini pertama kali dimuat pada 20 Oktober 1963.

[3] Lih., Budi Darma, 2007, Bahasa, Sastra dan Budi Darma, Surabaya: JP Books, hal. 20.

[4] Lih., Vela Andapita, “Mix lingo ‘literally’ a thing for South Jakartans” diakses via  http://www.thejakartapost.com/news/2018/09/05/mix-lingo-literally-a-thing-for-south-jakartans.html

[5] Beberapa perdebatan dapat dilihat di https://jurnalruang.com/read/1473403414-melampaui-baik-dan-benar, https://arielheryanto.files.wordpress.com/2016/02/2005_10_30_k-au-engdonesian-c1.pdf, dan https://tirto.id/bahasa-ala-anak-jaksel-dikritik-ivan-lanin-dibela-budayawan-betawi-cXpt.

[6] Lih., Remy Sylado, 2005, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing, Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

[7] Op.Cit., Pramoedya Ananta Toer.

Daftar Pustaka

Andapita, Vela, “Mix lingo ‘literally’ a thing for South Jakartans” dimuat di Jakarta Post, 05 September, 2018, diakses via http://www.thejakartapost.com/news/2018/09/05/mix-lingo-literally-a-thing-for-south-jakartans.html.

Darma, Budi, 2007, Bahasa, Sastra dan Budi Darma, Surabaya: JP Books.

Friana, Hendra, “Bahasa ala Anak Jaksel Dikritik Ivan Lanin, Dibela Budayawan Betawi” dimuat di tirto.id, 6 September 2018, diakses via https://tirto.id/bahasa-ala-anak-jaksel-dikritik-ivan-lanin-dibela-budayawan-betawi-cXpt.

Heryanto,Ariel, “Asal Usul Engdonesian” dimuat di Harian Kompas, 30 Oktober 2005, diakses via https://arielheryanto.files.wordpress.com/2016/02/2005_10_30_k-au-engdonesian-c1.pdf.

Sylado, Remy, 2005, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing, Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Tim Media Kerjabudaya, “Yang Menjadikan Bahasa Indonesia” dalam Majalah Media Kerjabudaya, Edisi 11 tahun 2003, hal. 14-18.

Toer, Pramoedya Ananta, “Basa Indonesia Sebagai Basa Revolusi Indonesia” dalam Majalah Media Kerjabudaya, Edisi 11 tahun 2003, hal.30-33.

Vidyadhana, Syarafina, “Melampaui Baik dan Benar” dimuat di Jurnal Ruang, 30 Agustus 2016, diakses via https://jurnalruang.com/read/1473403414-melampaui-baik-dan-benar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: